http://cursor.com/images/10a.gif

Minggu, 10 Agustus 2014

TIK



SOAL TEORI MS. ACSESS
1.       Jelaskan fungsi atau kegunaan dari ms acsess ?
2.       Jelaskan apa yang dimaksud :
a.       Database
b.      DBMS
c.       RDBMS
d.      Primary key
e.      Query
f.        DDL dan DML
g.       SQL
h.      Record
i.         Field
JAWABAN :
1.      Fungsi Microsoft Office Access 2007 adalah sebagai berikut :
  • untuk membuat program aplikasi persediaan barang
  • untuk membuat program aplikasi gaji pegawai
  • untuk membuat program aplikasi kehadiran
Jadi intinya fungsi microsoft office access 2007 adalah sebagai pembuat program aplikasi sebuah data untuk kebutuhan sehari - hari .Dengan microsoft access anda dapat merancang dan mengolah  database yang saling terkait.

2.        
a.       Database atau basis data adalah kumpulan data yang disimpan secara sistematis di dalam komputer dan dapat diolah atau dimanipulasi menggunakan perangkat lunak (program aplikasi) untuk menghasilkan informasi.
b.      DBMS merupakan software yang membantu pengguna dalam memanipulasi isi database mulai dari pembuatan, pengaksesan, perawatan, dan pengontrol setiap data yang ada.
c.       RDBMS atau Relationship Database Management System
merupakan salah satu jenis DBMS yang mendukung adanya relationship atau
hubungan antar tabel.
d.      Primary Key adalah field kunci / utama dari suatu tabel yang menunjukkan bahwa field yang menjadi kunci tersebut tidak bisa diisi dengan data yang sama, / dengan kata lain Primary key menjadikan tiap record memiliki identitas sendiri-sendiri yang membedakan satu sama lainnya (unik).
e.       Query adalah semacam kemampuan untuk menampilkan suatu data dari database dimana mengambil dari table-tabel yang ada di database,namun tabel tersebut tidak semua ditampilkan sesuai dengan yang kita inginkan.
f.       DDL atau Data Definition Language adalah kumpulan perintah SQL yang dapat digunakan untuk membuat dan mengubah struktur dan definisi tipe data dari objek-objek database seperti tabel, index, trigger, view, dan lain-lain.                                                                                               DML atau Data Manipulation Language adalah kumpulan perintah SQL yang berhubungan dengan pekerjaan mengolah data di dalam table.
g.      Structured Query Language (SQL) adalah sekumpulan perintah khusus yang digunakan untuk mengakses data dalam database relasional.
h.      Record Kumpulan dari field membentuk suatu record. Record menggambarkan suatu unit data individu yang tertentu. Kumpulan dari record membentuk suatu file. Misalnya file personalia, tiap record dapat mewakili data tiap karyawan.
i.        Field   merepresentasikan suatu atribut dari record yang menunjukkan suatu item dari data, seperti misalnya nama, alamat dan lain sebagainya. Kumpulan dari field membentuk suatu record.

Kamis, 12 Juni 2014

MELANJUTKAN NASKAH DRAMA

Andi dan Buku-Buku

Andi adalah salah satu murid yang tidak favorit di sekolah yang favorit. Dia tidak memiliki begitu banyak teman. Sehingga, tak banyak pula yang mengenalnya. Setiap hari, pada saat istirahat, dia selalu menghabiskan waktunya untuk membaca buku di perpustakaan. Bukan karena dia rajin membaca, tetapi karena dia tidak memiliki kawan untuk bermain dan memilih uang untuk pergi ke kantin.
Siang itu, Andi sudah berada di perpustakaan sedang membaca buku berjudul “Bersepeda untuk kebugaran”pada saat ia sedang “asyik” membaca, tiba-tiba dia mendengar suara kertas disobek “kreek”.
Andi                 : (penasaran dengan suara itu, berusaha memastikan,berjalan menuju arah)Apa yang dilakukan mereka?(mengintip di sela-sela buku di rak lain, dua teman lainnya sedang merobek kertas di salah satu buku milik perpustakaan sekolah).
Andi                 : Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus menegur mereka? Ataukah aku harus melapor kepada petugas perpustakaan?(tanyanya dalam hati)
            Andi bingung, dia kembali ke bangkunya lagi. Namun, dia berusaha tidak menghiraukan peristiwa itu. Ternyata hal itu tidak terjadi sekali saja. beberapa kali Andi melihat kejadian itu. Kali ini Andi merasa perlu mencari tahu.
Andi                 : Hari ini mereka tidka kesini. Aku harus tau apa yang mereka sobek(menuju rak tempat buku yang disobek mereka).
Andi                 :  Ini adalah rak pertama, aku harus menemuka bukunya. Dimana ya…?(membuka buku-buku satu persatu) nah ini dia.
Andi                 : Aku harus ke rak berikutnya(begitu seterusnya, himgga Andi dapat membawa semua buku).
Andi                 : “Sejarah Kota Kembang”, “Dia Yang Menumpahkan Darah Rakyat”, “Rusaknya Stabilitas Negara”, “Surat Dari Tanah Air”, “Ibu Aku Buta Karenamu”. (Andi semakin bingung dengan judul buku ini. Kemudian dia membalik-balik bagian yang disobekki.
Saat Andi membuka semua buku dibagian yang tersobek, ternyata petugas perpustakaan(PP) melihatnya dan memperhatikan.
PP                    : (melihat Andi) Andi! Kamu apakan buku-buku itu!
Andi                 : E….e…….saya tidak tahu. Saya dapat buku itu sudah begini Bu.
PP                    : Tapi kenapa semua? Apa ini kebetulan semua? Jelaskan!
Andi                 : E…e…..(Andi bingung menjelaskannya).
PP                    : Nah, kamu tidak bisa menjelaskan ka?
Andi                 : Tapi bukan saya yang melakukan ini Bu, betul.
PP                    : Saya tidak mau tahu, kamu sudah tertangkap basah, merusak bukumilik perpustakaan. Menurut peraturan, kamu harus menggantinya maksimal sebelum kamu mendapatkan  ijazah .
Andi                 : Tapi….Bu…..(belum sempat menjelaskan PP sudah pergi dengan raut wajah marah setelah mencatat buku yang adadihadapan Andi).
Kebingungan Andi semakin bertambah. Antara penasaran dengan perilaku mereka dan berusaha mencari tahu dan bingung harus bertanggung jawab atas perbuatan yang tidak dilakukannya.
***
Andi berjalan mengikuti petugas perpustakaan mencoba menjelaskan.
Andi                 : Bukan saya yang menyobek buku-buku itu bu
PP                    : Tetapi kamulah yang tertangkap basah. Bagaimana kamu menjelaskan hal tersebut
Andi diam tidak bisa menjelaskan
PP                    : Nah tidak bisa kan. Sekarang sebagai hukumannya kamu harus mengganti buku-buku tersebut
Kemudian PP meninggalkan Andi sendirian di Perpustakaan.
Walupun tampak kesal, Andi tetap menjalankan tugasnya.
Dibawah pengawasan PP Andi terpaksa membersihkan Ruangan Perpustakaan.
Adegan II
PP membereskan tas kerja, sementara Andi membersihkan ruang Perpustakaan.
PP                    : Saya harus pulang. Kalau sudah selesai, tolong kunci perpustakaan ini.
Andi                 : Ya bu
PP                    : (tampak bersimpati) anak baik, sayangnya kamu tidak bisa           membuktikan kalau kamu tidak bersalah(pergi).
Setelah PP pergi, akhirnya Andi bebas mengeluh.
Andi                 : (menyapu, sesekali mengelap keringat) aduh, apes….apess…(mengambil buku buku yang sudah sobek tak berbentuk, menggerutu sendiri) aku ini sudah miskin kok ya masih disuruh mengganti buku sebanyak ini, dapat uang darimana aku?         
Akhirnya Andi selesai membersihkan perpustakaan. Ia keluar melihat dua anak yang tadi merobek buku berdiri diambang pintu.
Anak 1 : (membentak) apa liat liat?!
Andi                 : (mencoba berani) kalian tadi yang…….
Anak 2             : (ikut membentak) iya memang! Tapi awas kalau berani macam macam, kami pukuli!
Andi                 : (ketakutan) i-iya………..(tidak berkata-kata lagi, langsung pergi)
Setelah Andi pergi kedua anak itu tertawa.
Adegan III
Dikamar Andi. Andi sedang belajar, ia juga memikirkan 2 amak yang menyobek buku, tiba-tiba ia teringat akan peristiwa satu tahun yang lalu.
Adegan IV
Diruang kelas. Satu tahun yang lalu,ketika sedang ujian kenaikan kelas.
Anak 1             : (memanggil anak 2) Didi, nomor 4!
Anak 2 : (menoleh ragu-ragu ke anak 1, mencoba memberi jawaban)
Anak 1             : Apa?? (berbisik)
Anak 2             : (Kesal. Menuliskan jawaban disobekan kertas, lalu            menyodorkannya kepada Andi) hei, berikan kesana.
Andi                 : (Tidak menggubris) berikan sendiri.
Anak 1             : (marah mendengar kata-kata Andi) hei, jangan sok ya! Cepat berikan jawabannya)
Anak 2             : (mendesak) ayolah keburu guru pengawas datang)
Andi                 : (semakin tidak peduli. Malah berkonsentrasi pada soalnya)
Anak 1             : (marah) dasaqr sombong! Sudah diberikan saja jawabannya
Anak 2 hendak memberikan jawabannya, namun ibu pengawas terlanjur memergoki mereka(anak 2 dan anak 1)
Guru Pengawas           : (tegas) kalian berdua yang menyontek, keluar dari sini sekarang!.
Anak 2 dan 1 keluar ruangan sambil menggerutu.
Adegan V
Di perpustakaan, Andi melihat anak 1 dan 2 dibalik rok, seperti sedang berdebat. Andi mengendap-endap dan menguping.
Anak 2             : Sudahlah Adi, kita sudah cukup menjaili si Andi itu. Sekarang kenapa kita harus merobek buku lagi.
Anak 1             : Aku belum puas! Dia hampir membuat kita tidak naik kelas waktu itu.
Anak 2             : Kenyataannya kita tetap naik kelas kan? Sudah cukup balas dendamnya.
Anak 1             : Heh Didi, kalau kamu takut yasudah, pergi saja sana! Biarkan aku merobek buku ini sendiri.
Tiba-tiba Andi muncul.
Andi                 : Hei! Apa yang kalian lakukan?
Anak 1             : (menyeringai jahat) jangan ikut campur, pergi sana! Atau babak belur.
Andi                 : (Lebih berani) tidak. Aku tidak mau mebuat kalian dihukum. Cepat letakkan buku itu.
Anak 2             :  Benar Adi, ayo kita pergi. Sudah cukup
Anak 1             : (kepada anak 2) Hei! Kenapa kamu jadi membelanya?(kepada Andi) bukannya kita impas? Dulu kamu juga membuatku dihukum, bahkan hampir tidak naik kelas.
Andi                 : Memang, tapi dulu kamu dihukum karena kesalahanmu sendiri sekarang pergilah atau kupanggil Ibu Perpustakaan!
Anak 1             : Mau mengancamku, hah? Lihat akibatnya(merobek buku)
Tepat saat anak 1 merobek buku, PP mendatangi mereka bertiga
PP                    : ada apa ribut-ribut? (menegur kemudian melihat buku yang sobek) Astagaa, ternyata kamu yang telah merobek buku!
Anak 1 terdiam tertangkap basah merobek buku.
PP                    : Kenapa kalian melakukan ini? Teman yang tidak bersalah menjadi korban kalian.
Anak 1             : Ini semua karena Andi sendiri Bu. Dia pernah mebuat kami ampir tidak naik kelas.
PP                    : (kepada mereka) benar begitu, apa alasannya
Anak 2             : (mengakui malu-malu) Andi tidak mau membantu kami menyontek, sehingga kami ketahuan.
PP                    : (terkejut) berarti itubukan salah Andi dihukum karena menyontek adalah kesalahan kalian sendiri. Justru Andi benar karena tidak membantu kalian. Nah, sekarang kalian harus mengganti buku-buku yang telah kalian sobek.
Anak 1 tampak bersungut, sebaliknya, anak 2 tampak lega. Mereka berdua pergi meninggalkan perpustakaan.
Anak 2             : (sebelum pergi) Maaf ya (menyalami Andi)
Andi                 : (kaget, tapi ikut tersenyum) Yaa, aku juga.
PP               : Begitu lebih baik. Sesama teman, kita tidak boleh menyimpan dendam, juga saling menyalahkan. Kalian juga harus saling memaafkan. Ayo………..
Anak 1             : (ragu-ragu menghampiri Andi) Maaf yaaa………..
Andi                 : Yaa, akupun minta maaf……..
Setelahnya, Andi tidak lagi dihukum oleh PP. Bahkan setelahnya, Andi,Adi serta Didimenjadi teman baik.
***

Selasa, 10 Juni 2014

CERPEN


Cerpen Republika, 1 Juli 2012 – oleh Mashdar Zainal

Ketika Leyla memutuskan untuk mengungsi, meninggalkan kampong halamannya, perih yang melilit perutnya kian menjadi-jadi. Terlampau perihnya, hingga seluruh pandangannya terasa buram. Leyla seperti melihat ribuan kunang-kunang berlesatan mengitari kepalanya. Selanjutnya, ia menyebut kunang-kunang itu sebagai sang maut. Sang maut yang selalu menguntitnya dan sewaktu-waktu siap mengantarnya menyusul almarhum suaminya.

Di kampungnya, Baydhabo, hujan terakhir turun sekitar tiga tahun lalu. Tanah-tanah menguning menyisakan debu. Pepohonan meranggas dan mati. Ternak-ternak kekurangan air dan akhirnya membangkai menjadi santapan burung nasar. Pada akhirnya para penduduk lebih memilih untuk mengungsi ke kamp di Mogadishu daripada mati kelaparan.

Leyla terus melangkah, menggendong anaknya yang kering seperti boneka kayu.

Dari perkampungannya ia harus menempuh perjalanan sejauh 150 kolimeter dengan berjalan kaki untuk sampai di Mogadishu. Tapi, itu tak masalah. Ia takkan putus harapan. Bahkan, ia tak peduli pada sang maut yang sudah sangat dekat mengintai, di atas kepalanya. Lapar memang. Dahaga memang. Terik memang. Tersengal memang. Tapi, setidaknya, jika harus mati, ia tidak akan mati sia-sia. Ia mati dalam jihad, jihad mempertahankan dua nyawa, nyawa anaknya yang masih lima tahun, dan nyawanya sendiri.

Bagi Leyla, Mogadishu adalah satu-satunya muara untuk mempertahankan arus hidupnya yang kerontang. Konon, di Mogadishu ada kamp yang menampung orang-orang kelaparan. Di sana panitia menyediakan air, makanan, kemah, juga toilet. Bersama puluhan penduduk lainnya, Leyla berjalan terseok seperti pendaki gunung yang kehabisan tenaga sebelum sampai puncaknya. Sementara itu, matahari terus membara, rasanya seperti di atas kepala. Dari tubuh-tubuh pekat itu bercucuran keringat. Leyla masih berjalan tersengal. Dalam gendongannya, si kecil terus menangis menahan lapar. Di antara cucuran keringat, Leyla pun mencucurkan air mata. Asin.

“Sebentar lagi sampai, Nak,” bisiknya hampir tak terdengar. Di belakang punggungnya, si kecil masih terus menangis. Sudah lima kali ia menyaksikan orang-orang ambruk di tengah jalan. Seorang anak kecil menempel dalam gendongan ibunya yang meringkuk di tanah. Perempuan renta yang menggelosor di tanah membara, matanya melebar menahan lapar. Seorang lelaki tua yang memilih diam dan mati karena sudah tidak memiliki sisa tanaga. Leyla menyaksikan semua itu, miris, tapi ia pun tak bisa berbuat apa-apa. Mengingat kunang-kunang masih mengitari penglihatannya, beberapa menit berikutnya, bisa saja ia yang ambruk, dan segeralah anaknya yang menjadi yatim piatu.

***
Leyla paham maut bisa sangat dekat dan menjelma menjadi apa saja, termasuk lapar. Di perkampungan tempat ia tinggal, lapar telah membunuh puluhan orang, tak pandang bulu dan usia. Semenjak perang saudara meletus dan mesiu bisa meledak kapan saja dan di mana saja tanpa terduga, ditambah bencana kekeringan yang tak berkesudahan, perkampungan tempat ia tinggal tak ubahnya neraka. Tak ada lagi harapan hidup di sana. Sang maut telah membaluri perkampungan itu dengan rasa khawatir dan rasa lapar yang begitu mengerikan. Satu-satunya harapan hidup adalah Mogadishu.

Dengan harapan-harapan cerlang, Leyla terus menapakkan telapak kakinya yang sudah mati rasa. Tiba-tiba Leyla membayangkan, barangkali di padang mahsyar keadaannya tak jauh berbeda. Panas. Lapar. Dahaga. Membayangkan itu, perut Leyla kian panas melilit. Ia tak heran jika anaknya menangis tak henti-henti. Di atas kepalanya, kunang-kunang yang ia sebut sebagai jelmaan sang maut itu masih menari-nari. Ketika mengerjapkan mata, Leyla seperti berada di sebuah tempat yang gerah dengan lampu disko yang benderang dan berkilat-kilat. Hampir saja ia ambruk oleh silaunya.

“Mogadishu, Mogadishu, kita sampai,” selintas teriakan itu membuyarkan pikirannya. Leyla seperti terbangun dari igauan.

Di sela kilauan bara matahari, sambil mengerjap-ngerjapkan mata, Leyla bisa melihat puluhan atau mungkin ratusan kemah berjajar di hadapannya. Tak seperti yang ia bayangkan. Kemah itu tak lebih bagus dari gubuk tempat tinggalnya. Kemah-kemah itu menggunduk serupa rumah keong. Ranting-ranting kayu, kain, dan plastik-plastik bekas tersampir sembarangan di atasnya. Leyla membayangkan betapa panasnya berada dalam kemah keong itu. Pasti rasanya seperti dalam tungku. Tapi tak apa, di sini masih ada harapan hidup, pikirnya.

Leyla berlari kecil, menyongsong perkemahan itu. Ia menyaksikan puluhan orang tengah meringkuk tak berdaya dalam kemah-kemah lusuh itu. Beberapa anak memainkan panci kosong di depan pintu, beberapa yang lain mengisi panci-panci itu dengan butiran debu. Di tempat lain, Leyla menyaksikan seorang lelaki kurus sedang menggali tanah. Di sebelahnya, jasad seorang bocah terbujur, matanya mendelik, tulang dan rangka menyembul di antara kulit yang menghitam, mirip janin yang hangus. Bau tak sedap menyeruak. Lalat beterbangan. Leyla merinding, lapar benar-benar bisa lebih kejam dari yang ia bayangkan. Ia melirik anaknya yang sedang tertidur di punggungnya. Ia lega meski hatinya sesak tak terkata.

***
Karena persediaan makanan tak lebih banyak dari warga yang kelaparan maka orang-orang harus mengantre untuk mendapatkan jatahnya. Mereka akan mengantre tiga hari sekali. Oh, untuk sepanci bubur, penantian tiga hari akan terasa sangat lama. Bahkan, untuk mengantre makanan itu beberapa orang harus bertaruh nyawa. Kepala Leyla berdenyut membayangkan itu semua. Kunang-kunang yang mengitari kepalanya kian beringas berlesatan membaluri tubuhnya. “Apa aku akan segera mati?” tanyanya dalam hati.

Sekilas ia melirik anaknya yang teronggok lemas dalam pangkuannya. Leyla tahu mengapa anak itu sudah tidak menangis lagi. Lapar membuatnya kehabisan daya, bahkan untuk menangis. Jatahnya mengantre masih dua hari lagi, ia tak yakin anaknya bisa bertahan dari maut. Kunang-kunang yang semula berlesatan di antara kepalanya kini berhamburan membaluri tubuh kering anaknya. Leyla paham itu alamat apa. Sambil menangis, Leyla bangkit dari duduknya. Di dekapnya bocah kecil yang kerontang itu erat-erat. Ia berlari, menyerundul antrean orang-orang yang membawa panci.

“Hei, Nyonya, kau harus mengantre,” kata seorang pria kurus yang mengenakan jubah lusuh.

“Tolong, anak saya kelaparan, tolong!” Leyla memelas.

“Kita semua di sini kelaparan. Tapi, tetap saja kita harus mengindahkan peraturan. Kita semua di sini mengantre. Kau pun harus mengantre.”

“Tapi, jatah antrean saya masih dua hari lagi, saya takut…”

“Anda bukan orang pertama yang mengatakan itu,” tandas lelaki itu.

Antrean terus berjalan ke depan. Leyla merengek ke sana kemari untuk mendapat belas kasihan. Namun, sungguh, Leyla tak menyalahkan siapa pun jika pada akhirnya ia harus pasrah menyerahkan anaknya pada sang maut. Ia bukan satu-satunya orang yang mengalami itu. Leyla terhuyung meninggalkan deret antrean. Ia menatap anaknya sekali lagi. Napas anak itu terdengar ngik-ngik. Matanya membelalak dan berair. Ia menatap anaknya dengan tatapan sesal.

Leyla tertunduk, terduduk dalam kemah yang membara. Ia menyaksikan kunang-kunang itu berputar-putar di kepala anaknya, di tubuh anaknya. Ia menatap mata lebar itu tanpa henti. Keringatnya bercucuran. Air matanya bercucuran. Jika kau harus pergi, pergilah, Nak. Mungkin di sana lebih baik. Konon, di sana ada banyak pepohonan dan sungai. Di sana tak ada matahari yang membakar. Di sana akan banyak sekali makanan. Pergilah, jika kau harus pergi, Nak.

Perlahan, Leyla menyaksikan tubuh anaknya mengejang. Perlahan, mata yang terbelalak itu mengatup. Seperti bayi yang mengantuk usai tertawa panjang. Leyla merengkuh tubuh anaknya lebih erat. Aroma kematian begitu lekat. Leyla mengguncang-guncangkan tubuh anaknya. Di dengarnya sendi-sendi kecil itu beradu, bergemeretak, seperti boneka kayu. Leyla tak percaya anaknya pernah hidup. Pernah tertawa bersamanya. Pernah memanggilnya ‘Ma’. Leyla tak bisa menahan air matanya. Ia juga heran mengapa air matanya tak juga habis. Barangkali suatu saat ia bisa meminumnya ketika dahaga.

***
Leyla melangkah keluar dari dalam kemah. Matahari begitu jalang. Leyla teringat pada lelaki yang beberapa waktu lalu menggali tanah untuk mengubur jasad anaknya. Tampaknya ia harus melakukan hal yang sama. Leyla mengamati tanah lapang di sekitar kemah. Ada beberapa gundukan yang ia yakini sebagai makam. Dengan sebuah sekrup yang tergeletak di dinding kemah, Leyla mulai menandai galian. Jasad anaknya yang sudah beku ia letakkan di sebelahnya. Lalat mulai menguing berdatangan. Leyla mulai menggali perlahan. Rasa lapar yang menyengat perutnya tiba-tiba hilang. Atau barangkali ia sudah tidak memikirkannya lagi. Leyla baru tahu bahwa ternyata kesedihan bisa menghilangkan rasa lapar.

Leyla terus menggali meski sendi-sendinya terasa hampir lumpuh. Dibopongnya sendiri jasad anaknya yang meranggas. Diletakkannya jasad itu di lubang galian yang tak terlalu dalam. Tanpa kafan. Tanpa apa pun. Ketika Leyla menimbun jasad kering itu dengan tanah, perasaannya teraduk-aduk. Rasanya seperti tak ada lagi sesuatu yang harus ia pertahankan.

Beberapa orang hanya termangu menyaksikan Leyla berjibaku dengan debu, keringat, dan air mata. Tentu ini bukan pemandangan baru. Di Baydhabo ataupun di Mogadishu sama saja, setiap orang bisa saja mati karena kelaparan. Leyla hanya harus menunggu kapan sang maut benar-benar merengkuhnya.

Siang berjalan sangat lamban seperti sebuah adegan kehidupan yang dilambatkan. Di depan kemahnya, Leyla terduduk lemas menggenggam sebuah panci yang tak pernah terisi. Dari sela-sela kemah yang butut itu, dari kejauhan Leyla melihat puluhan atau mungkin ratusan orang berjajar memanjang membentuk antrean. Leyla membayangkan sesuatu bahwa sesungguhnya orang-orang itu sedang mengantre maut.

Dengan mata terpicing, Leyla terus menyaksikan antrean itu bergerak maju. Entah mengapa Leyla tak tertarik untuk ikut mengantre meski hari ini ia mendapat jatah antrean. Rasa lapar yang semula membakar perutnya berangsur-angsur reda. Leyla tersenyum. Ia benar-benar merasa bahwa tak ada lagi yang perlu ia pertahankan. Leyla terus memperhatikan antrean itu dari kejauhan. Ia membayangkan, mungkin kini anak dan suaminya sedang berteduh di sebuah tempat sambari menyantap nasi samin dan kurma muda.

Leyla kembali tersenyum ketika kunang-kunang itu kembali berkelebat dan berputar-putar di atas kepalanya.

MENGONVERSI CERPEN MENJADI NASKAH DRAMA

Menjemput Maut di Mogadishu
Cerpen Republika, 1 juli 2012- oleh Mashdar Zainal
Naskah oleh          : Dita Kurnia A.K
Adegan 1
Ketika Leyla memutuskan untuk mengungsi, meninggalkan kampung halamannya, perih yang melilit kian menjadi-jadi. Terlampau perihnya, hingga seluruh pandangannya terasa buram. Leyla seperti melihat ribuan kunang-kunang berlesatan mengitari kepalanya. Selanjutnya, ia menyebut kunang-kunang itu sebagai sang maut. Sang maut yang selau menguntitnya dan sewaktu-waktu siap mengantarnya menyusul almahum suaminya.
Warga desa 1     : Sudah berapa lama kampung kita ini tidak merasakan air hujan yang turun?
Leyla                      :Sekitar 3 tahun yang lalu. (dengan raut muka yang nampak menderita)
Warga desa 1     : Tanah-tanah menyisakan debu, pepohonan merangas mati, ternak-ternak kekurangan air dan akhirnya membangkai. Bagaimanakah nasib kita kedepannya??
Leyla                      : Sudah banyak yang memulai perjalan untuk menungsi ke kamp d Mogadishu daripada mati kelaparan di kampung Baydhabo ini.
Warga desa 1     : Kalau begitu ayo kita juga ikut mengungsi. Kasihan anakmu.
Leyla                      : Baiklah. (menggendong anaknya yang kering seperti boneka kayu).
Dari perkampungannya ia harus menempuh perjalanan sejauh 150 kilometer dengan berjalan kaki untuk sampai di Mogadishu.
Leyla                      : Masih jauhkah kita? (dengang mengusap keringat)
Warga desa 1     : Separuh perjalanan lagi, kuatkan dirimu.
Leyla                      : Tak adakah sisa air sedikit untuk anakku, kasihan dia.
Warga desa 1     : Maaf Leyla tapi tidak ada, bersabarlah. Sedikit lagi kita sampai.
Leyla                      : Baiklah, setidaknya jika aku mati, aku tidak akan mati sia-sia. Aku mati dalam jihad mempertahankan dua nyawa. Nyawaku dan nyawa anakku ini. (dengan sedikit meneteskan air mata).
Warga desa 1     : Benar Leyla.
Adegan 2
Konon di Mogadishu ada kamp yang menampung orang-orang kelaparan.Di sana panitia menyediakan air, makanan, kemah, juga toilet.
 Leyla                     : Panas sekali matahari ini?
Warga desa 1     : Ini karena kita berjalan diatas tanah yang kering.
Leyla                      : Apa yang terjadi,mengapa sepanjang perjalanan aku tidak melihat pohon yang hidup satupun?
Warga desa 1     : Itu karena tidak ada hujan yang turun di sini. Kau lihat sungai di sana, dulu sungai itu ada airnya yang mengalir dengan sangat deras. Tapi karena kekeringan ini semua itu hilang.
(menggendong anaknya yang daritadi menangis karena lapar)
Leyla                      : cup..cup..cup..nak. Sebentar lagi sampai, nak.
Warga desa1      : Ada apa dengan anakmu. Mengapa dia menangis terus?
Leyla                      : Dia lapar dan haus. Lihatlah hanya tersisa kulit yang ada di tubuhnya.
Di sisi lain
Anak kecil            : huhuhuhuhuhu,ibu…ibu…ibu..bangunlah bu. Jangan tinggalkan aku. Sedikit lagi kita sampai bu. (menangis dengan tersedu-sedu)
Warga desa 2     : Tenanglah nak. Ibumu sudah tenang disana. Ayo kita lanjutkan perjalanan kita.
Anak kecil            : Bagaimana dengan ibuku? Tak akan ku tinggalkan ibuku sendiri disini, biarlah aku menemani ibu (sambil terus menangis)
Warga desa 2     : Sudahlah nak. Biarlah ibumu disini, biarlah tubuhnya menyatu dengan tanah.
Anak kecil            : huhuhhuhuhuhhuhhuh……
Adegan 3
Dengan harapan-harapan cerlang, Leyla terus menapakkan telapak kakinya yang sudah mati rasa. Di perkampungan tempat ia tinggal, lapar telah membunuh puluhan orang.
Warga desa 3     : Mogadishu…Mogadishu, kita sampai. (dengan wajah ceria)
Leyla      : Jadi beginikah Mogadishu?(heran) kemah-kemah itu tak lebih bagus dari gubukku. Tapi tak apa setidaknya aku bisa mendapatkan cukup makanan disini.(dalam pikiran ia berkata)
Warga desa 1     : Disana ada antrian ayo kita melihat kesana.
Leyla                     : Ayo.(dengan berlari kecil)
Warga desa 1     : Wah apa-apaan ini mengapa mengenaskan sekali keadaan disini. Tidak seperti yang aku bayangkan.
Leyla                      : Apakah memang sudah tidak ada harapan untuk kita lagi? Lihatlah itu apa yang dilakukan bapak itu mengapa dia menggali tanah?(dengan menunjuk)
Warga desa 1     : Sepertinya dia akan menguburkan jasad anaknya yang sudah meninggal.
Leyla                      : Kasihan sekali bapak itu.
Leyla merinding, lapar benar-benar bisa lebih kejam dari yang ia bayangkan. Ia melirik anaknya yang sedang tertidur di punggungnya. Ia lega meski hatinya sesak tak terkata.
Adegan 4
Karena persediaan makanan tak lebih banyak dari warga yang kelaparan maka orang-orang harus mengantre untuk mendapatkan jatahnya. Mereka mengantre tiga hari sekali.
Pria kurus            : hei, nyonya,kau harus mengantre.
Leyla                      : Tolong, anak saya kelaparan, tolong!.
Pria kurus            : Kita semua disini kelaparan . Tapi,tetap sajakita harus mengindahkan peraturan. Kita semua di sini mengantre. Kau pun harus mengantre.
Leyla                      : Tapi, jatah antrean saya masih dua hari lagi, saya takut…
Pria kurus            : Anda bukan orang pertama yang mengatakan itu.
Leyla                      : Tapi, tolonglah pak. Lihatlah anak saya di badannya hanya tinggal kulit.
Pria kurus            : Maaf nyonya tetapi tetap anda harus mengantre.
                Leyla terhuyung meninggalkan deret antrean. Ia menatap anaknya sekali lagi. Napas anak itu terdengar ngik-ngik. Matanya  membelalak dan berair. Ia menatap anaknya dengan tatapan sesal.
Leyla                      : Pejamkan matamu nak, mungkin di sana lebih baik. Konon di sana ada banyak pepohonan dan sungai. Di sana taka da matahari yang membakar. Di sana akan banyak sekali makanan. Pergilah, jika kau harus pergi, Nak.
(perlahan tubuh anaknya mengejang dan matanya mangatup)

Leyla                      : Nak…nak…apakah kau sudah pergi??apakah secepat itu kau meninggalkan ibumu? (dengan menangis tersedu-sedu dan mengguncang-guncangkan tubuh anaknya)
Leyla melangkah keluar dari dalam kemah. Dengan sebuah sekop yang ada di dinding kemahnya dia mulai menggali lubang untuk menguburkan jasad anaknya. Leyla baru menyadari bahwa ternyata kesedihan bisa menghilangkan rasa lapar.
Leyla                      : Bagaimana ya keadaan anak dan suamiku di sana? Apakah kalian bahagia di sana?
Leyla tersenyum ketika sang maut itu kembali berkelebatan dan berputar-putar di atas kepalanya.