http://cursor.com/images/10a.gif

Selasa, 10 Juni 2014

MENGONVERSI CERPEN MENJADI NASKAH DRAMA

Menjemput Maut di Mogadishu
Cerpen Republika, 1 juli 2012- oleh Mashdar Zainal
Naskah oleh          : Dita Kurnia A.K
Adegan 1
Ketika Leyla memutuskan untuk mengungsi, meninggalkan kampung halamannya, perih yang melilit kian menjadi-jadi. Terlampau perihnya, hingga seluruh pandangannya terasa buram. Leyla seperti melihat ribuan kunang-kunang berlesatan mengitari kepalanya. Selanjutnya, ia menyebut kunang-kunang itu sebagai sang maut. Sang maut yang selau menguntitnya dan sewaktu-waktu siap mengantarnya menyusul almahum suaminya.
Warga desa 1     : Sudah berapa lama kampung kita ini tidak merasakan air hujan yang turun?
Leyla                      :Sekitar 3 tahun yang lalu. (dengan raut muka yang nampak menderita)
Warga desa 1     : Tanah-tanah menyisakan debu, pepohonan merangas mati, ternak-ternak kekurangan air dan akhirnya membangkai. Bagaimanakah nasib kita kedepannya??
Leyla                      : Sudah banyak yang memulai perjalan untuk menungsi ke kamp d Mogadishu daripada mati kelaparan di kampung Baydhabo ini.
Warga desa 1     : Kalau begitu ayo kita juga ikut mengungsi. Kasihan anakmu.
Leyla                      : Baiklah. (menggendong anaknya yang kering seperti boneka kayu).
Dari perkampungannya ia harus menempuh perjalanan sejauh 150 kilometer dengan berjalan kaki untuk sampai di Mogadishu.
Leyla                      : Masih jauhkah kita? (dengang mengusap keringat)
Warga desa 1     : Separuh perjalanan lagi, kuatkan dirimu.
Leyla                      : Tak adakah sisa air sedikit untuk anakku, kasihan dia.
Warga desa 1     : Maaf Leyla tapi tidak ada, bersabarlah. Sedikit lagi kita sampai.
Leyla                      : Baiklah, setidaknya jika aku mati, aku tidak akan mati sia-sia. Aku mati dalam jihad mempertahankan dua nyawa. Nyawaku dan nyawa anakku ini. (dengan sedikit meneteskan air mata).
Warga desa 1     : Benar Leyla.
Adegan 2
Konon di Mogadishu ada kamp yang menampung orang-orang kelaparan.Di sana panitia menyediakan air, makanan, kemah, juga toilet.
 Leyla                     : Panas sekali matahari ini?
Warga desa 1     : Ini karena kita berjalan diatas tanah yang kering.
Leyla                      : Apa yang terjadi,mengapa sepanjang perjalanan aku tidak melihat pohon yang hidup satupun?
Warga desa 1     : Itu karena tidak ada hujan yang turun di sini. Kau lihat sungai di sana, dulu sungai itu ada airnya yang mengalir dengan sangat deras. Tapi karena kekeringan ini semua itu hilang.
(menggendong anaknya yang daritadi menangis karena lapar)
Leyla                      : cup..cup..cup..nak. Sebentar lagi sampai, nak.
Warga desa1      : Ada apa dengan anakmu. Mengapa dia menangis terus?
Leyla                      : Dia lapar dan haus. Lihatlah hanya tersisa kulit yang ada di tubuhnya.
Di sisi lain
Anak kecil            : huhuhuhuhuhu,ibu…ibu…ibu..bangunlah bu. Jangan tinggalkan aku. Sedikit lagi kita sampai bu. (menangis dengan tersedu-sedu)
Warga desa 2     : Tenanglah nak. Ibumu sudah tenang disana. Ayo kita lanjutkan perjalanan kita.
Anak kecil            : Bagaimana dengan ibuku? Tak akan ku tinggalkan ibuku sendiri disini, biarlah aku menemani ibu (sambil terus menangis)
Warga desa 2     : Sudahlah nak. Biarlah ibumu disini, biarlah tubuhnya menyatu dengan tanah.
Anak kecil            : huhuhhuhuhuhhuhhuh……
Adegan 3
Dengan harapan-harapan cerlang, Leyla terus menapakkan telapak kakinya yang sudah mati rasa. Di perkampungan tempat ia tinggal, lapar telah membunuh puluhan orang.
Warga desa 3     : Mogadishu…Mogadishu, kita sampai. (dengan wajah ceria)
Leyla      : Jadi beginikah Mogadishu?(heran) kemah-kemah itu tak lebih bagus dari gubukku. Tapi tak apa setidaknya aku bisa mendapatkan cukup makanan disini.(dalam pikiran ia berkata)
Warga desa 1     : Disana ada antrian ayo kita melihat kesana.
Leyla                     : Ayo.(dengan berlari kecil)
Warga desa 1     : Wah apa-apaan ini mengapa mengenaskan sekali keadaan disini. Tidak seperti yang aku bayangkan.
Leyla                      : Apakah memang sudah tidak ada harapan untuk kita lagi? Lihatlah itu apa yang dilakukan bapak itu mengapa dia menggali tanah?(dengan menunjuk)
Warga desa 1     : Sepertinya dia akan menguburkan jasad anaknya yang sudah meninggal.
Leyla                      : Kasihan sekali bapak itu.
Leyla merinding, lapar benar-benar bisa lebih kejam dari yang ia bayangkan. Ia melirik anaknya yang sedang tertidur di punggungnya. Ia lega meski hatinya sesak tak terkata.
Adegan 4
Karena persediaan makanan tak lebih banyak dari warga yang kelaparan maka orang-orang harus mengantre untuk mendapatkan jatahnya. Mereka mengantre tiga hari sekali.
Pria kurus            : hei, nyonya,kau harus mengantre.
Leyla                      : Tolong, anak saya kelaparan, tolong!.
Pria kurus            : Kita semua disini kelaparan . Tapi,tetap sajakita harus mengindahkan peraturan. Kita semua di sini mengantre. Kau pun harus mengantre.
Leyla                      : Tapi, jatah antrean saya masih dua hari lagi, saya takut…
Pria kurus            : Anda bukan orang pertama yang mengatakan itu.
Leyla                      : Tapi, tolonglah pak. Lihatlah anak saya di badannya hanya tinggal kulit.
Pria kurus            : Maaf nyonya tetapi tetap anda harus mengantre.
                Leyla terhuyung meninggalkan deret antrean. Ia menatap anaknya sekali lagi. Napas anak itu terdengar ngik-ngik. Matanya  membelalak dan berair. Ia menatap anaknya dengan tatapan sesal.
Leyla                      : Pejamkan matamu nak, mungkin di sana lebih baik. Konon di sana ada banyak pepohonan dan sungai. Di sana taka da matahari yang membakar. Di sana akan banyak sekali makanan. Pergilah, jika kau harus pergi, Nak.
(perlahan tubuh anaknya mengejang dan matanya mangatup)

Leyla                      : Nak…nak…apakah kau sudah pergi??apakah secepat itu kau meninggalkan ibumu? (dengan menangis tersedu-sedu dan mengguncang-guncangkan tubuh anaknya)
Leyla melangkah keluar dari dalam kemah. Dengan sebuah sekop yang ada di dinding kemahnya dia mulai menggali lubang untuk menguburkan jasad anaknya. Leyla baru menyadari bahwa ternyata kesedihan bisa menghilangkan rasa lapar.
Leyla                      : Bagaimana ya keadaan anak dan suamiku di sana? Apakah kalian bahagia di sana?
Leyla tersenyum ketika sang maut itu kembali berkelebatan dan berputar-putar di atas kepalanya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar