Menjemput Maut
di Mogadishu
Cerpen
Republika,
1 juli 2012- oleh Mashdar Zainal
Naskah oleh
: Dita Kurnia A.K
Adegan
1
Ketika Leyla memutuskan untuk mengungsi, meninggalkan kampung
halamannya, perih yang melilit kian menjadi-jadi. Terlampau perihnya, hingga
seluruh pandangannya terasa buram. Leyla seperti melihat ribuan kunang-kunang
berlesatan mengitari kepalanya. Selanjutnya, ia menyebut kunang-kunang itu
sebagai sang maut. Sang maut yang selau menguntitnya dan sewaktu-waktu siap
mengantarnya menyusul almahum suaminya.
Warga
desa 1 : Sudah berapa lama kampung
kita ini tidak merasakan air hujan yang turun?
Leyla :Sekitar 3 tahun yang
lalu. (dengan raut muka yang nampak menderita)
Warga desa 1 : Tanah-tanah menyisakan debu, pepohonan merangas mati, ternak-ternak
kekurangan air dan akhirnya membangkai. Bagaimanakah nasib kita kedepannya??
Leyla :
Sudah banyak yang memulai perjalan untuk menungsi ke kamp d Mogadishu daripada
mati kelaparan di kampung Baydhabo ini.
Warga desa 1 : Kalau begitu ayo kita juga ikut mengungsi. Kasihan anakmu.
Leyla :
Baiklah. (menggendong anaknya yang kering seperti boneka kayu).
Dari perkampungannya ia harus menempuh perjalanan sejauh 150
kilometer dengan berjalan kaki untuk sampai di Mogadishu.
Leyla : Masih jauhkah kita?
(dengang mengusap keringat)
Warga
desa 1 : Separuh perjalanan lagi,
kuatkan dirimu.
Leyla
: Tak adakah sisa air
sedikit untuk anakku, kasihan dia.
Warga
desa 1 : Maaf Leyla tapi tidak ada,
bersabarlah. Sedikit lagi kita sampai.
Leyla :
Baiklah, setidaknya jika aku mati, aku tidak akan mati sia-sia. Aku mati dalam
jihad mempertahankan dua nyawa. Nyawaku dan nyawa anakku ini. (dengan sedikit
meneteskan air mata).
Warga
desa 1 : Benar Leyla.
Adegan
2
Konon di Mogadishu ada kamp yang menampung orang-orang
kelaparan.Di sana panitia menyediakan air, makanan, kemah, juga toilet.
Leyla :
Panas sekali matahari ini?
Warga
desa 1 : Ini karena kita berjalan
diatas tanah yang kering.
Leyla :
Apa yang terjadi,mengapa sepanjang perjalanan aku tidak melihat pohon yang
hidup satupun?
Warga desa 1 : Itu karena tidak ada hujan yang turun di sini. Kau lihat
sungai di sana, dulu sungai itu ada airnya yang mengalir dengan sangat deras.
Tapi karena kekeringan ini semua itu hilang.
(menggendong
anaknya yang daritadi menangis karena lapar)
Leyla
:
cup..cup..cup..nak. Sebentar lagi sampai, nak.
Warga
desa1 : Ada apa dengan anakmu. Mengapa
dia menangis terus?
Leyla
: Dia lapar dan haus.
Lihatlah hanya tersisa kulit yang ada di tubuhnya.
Di
sisi lain
Anak kecil :
huhuhuhuhuhu,ibu…ibu…ibu..bangunlah bu. Jangan tinggalkan aku. Sedikit lagi
kita sampai bu. (menangis dengan tersedu-sedu)
Warga
desa 2 : Tenanglah nak. Ibumu sudah
tenang disana. Ayo kita lanjutkan perjalanan kita.
Anak kecil :
Bagaimana dengan ibuku? Tak akan ku tinggalkan ibuku sendiri disini, biarlah
aku menemani ibu (sambil terus menangis)
Warga
desa 2 : Sudahlah nak. Biarlah ibumu
disini, biarlah tubuhnya menyatu dengan tanah.
Anak
kecil : huhuhhuhuhuhhuhhuh……
Adegan
3
Dengan harapan-harapan cerlang, Leyla terus menapakkan
telapak kakinya yang sudah mati rasa. Di perkampungan tempat ia tinggal, lapar
telah membunuh puluhan orang.
Warga
desa 3 : Mogadishu…Mogadishu, kita
sampai. (dengan wajah ceria)
Leyla : Jadi
beginikah Mogadishu?(heran) kemah-kemah itu tak lebih bagus dari gubukku. Tapi tak
apa setidaknya aku bisa mendapatkan cukup makanan disini.(dalam pikiran ia
berkata)
Warga
desa 1 : Disana ada antrian ayo kita
melihat kesana.
Leyla :
Ayo.(dengan berlari kecil)
Warga desa 1 : Wah apa-apaan ini mengapa mengenaskan sekali keadaan disini. Tidak
seperti yang aku bayangkan.
Leyla :
Apakah memang sudah tidak ada harapan untuk kita lagi? Lihatlah itu apa yang
dilakukan bapak itu mengapa dia menggali tanah?(dengan menunjuk)
Warga
desa 1 : Sepertinya dia akan
menguburkan jasad anaknya yang sudah meninggal.
Leyla : Kasihan sekali bapak
itu.
Leyla merinding, lapar benar-benar bisa lebih kejam dari yang
ia bayangkan. Ia melirik anaknya yang sedang tertidur di punggungnya. Ia lega
meski hatinya sesak tak terkata.
Adegan
4
Karena
persediaan makanan tak lebih banyak dari warga yang kelaparan maka orang-orang
harus mengantre untuk mendapatkan jatahnya. Mereka mengantre tiga hari sekali.
Pria
kurus : hei, nyonya,kau harus
mengantre.
Leyla : Tolong, anak saya
kelaparan, tolong!.
Pria
kurus : Kita semua disini
kelaparan . Tapi,tetap sajakita harus mengindahkan peraturan. Kita semua di
sini mengantre. Kau pun harus mengantre.
Leyla :
Tapi, jatah antrean saya masih dua hari lagi, saya takut…
Pria
kurus : Anda bukan orang
pertama yang mengatakan itu.
Leyla : Tapi, tolonglah pak.
Lihatlah anak saya di badannya hanya tinggal kulit.
Pria
kurus : Maaf nyonya tetapi
tetap anda harus mengantre.
Leyla terhuyung meninggalkan
deret antrean. Ia menatap anaknya sekali lagi. Napas anak itu terdengar
ngik-ngik. Matanya membelalak dan
berair. Ia menatap anaknya dengan tatapan sesal.
Leyla :
Pejamkan matamu nak, mungkin di sana lebih baik. Konon di sana ada banyak
pepohonan dan sungai. Di sana taka da matahari yang membakar. Di sana akan
banyak sekali makanan. Pergilah, jika kau harus pergi, Nak.
(perlahan tubuh anaknya mengejang dan
matanya mangatup)
Leyla :
Nak…nak…apakah kau sudah pergi??apakah secepat itu kau meninggalkan ibumu?
(dengan menangis tersedu-sedu dan mengguncang-guncangkan tubuh anaknya)
Leyla
melangkah keluar dari dalam kemah. Dengan sebuah sekop yang ada di dinding
kemahnya dia mulai menggali lubang untuk menguburkan jasad anaknya. Leyla baru
menyadari bahwa ternyata kesedihan bisa menghilangkan rasa lapar.
Leyla
: Bagaimana ya
keadaan anak dan suamiku di sana? Apakah kalian bahagia di sana?
Leyla
tersenyum ketika sang maut itu kembali berkelebatan dan berputar-putar di atas
kepalanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar