http://cursor.com/images/10a.gif

Selasa, 10 Juni 2014

NASKAH DRAMA


Contoh Naskah Drama Sastra

KERETA KENCANA
( Les Chaises )

Karya : Eugene Ionesco
Terjemahan : W.S. Rendra

Pusat Pengembangan dan Penataran Guru Kesenian Yogyakarta
2004

( WAKTU LAYAR DIBUKA PANGGUNG GELAP DAN SUNYI, KEMUDIAN TERDENGAR SUARA)

………………… Wahai, Wahai……………….. Dengarlah engkau dua orang tua yang selalu bergandengan, dan bercinta, sementara siang dan malam berkejaran dua abad lamanya.
Wahai, wahai dengarlah !
Aku memanggilmu. Datanglah berdua bagai dua ekor burung dara. Akan kukirimkan kereta kencana untuk menyambut engkau berdua. Bila bulan telah luput dari mata angin, musim gugur menampari pepohonan dan daun-daun yang rebah berpusingan.
Wahai, wahai !
Di tengah malam di hari ini akan kukirimkan kereta kencanaa untuk menyambut engkau berdua. Kereta kencana, 10 kuda 1 warna.

( EMPAT KETUKAN, SETELAH ITU NENEK MASUK DENGAN LILIN MENYALA. DUHAI GUGUPNYA)

NENEK : Henry, engkaukah itu ?
Henry.. ah. dari mana engkau sayang ?


( NENEK BERJALAN DENGAN LILIN MENYALA, IA DUDUK DI KURSI BAGUS TANPA SANDARAN, DAN MEMBISU )

NENEK : (MELETAKKAN LILIN KE MEJA ) Henry, dari mana engkau ? Kenapa diam saja ? saya mencarimu, ada apa dengan engkau ? Ayolah jangan diam saja ? Henry apakah kau tadi yang bersuara keras ?

KAKEK : ( MENGGELENGKAN KEPALA BAGAI TERMENUNG )

NENEK : Sakitkah engkau ? Ayolah jangan diam saja. Nyalakan lampu listriknya. Di kamar ini dan di kamar tidur kita saja yang ada lampu listriknya, dikamar lain sudah rusak semuanya. Oh Tuhan……. Alangkah bobroknya rumah kita ini. Baiklah. Ayolah nyalakan lampu listriknya Henry.

(KAKEK TETAP MEMBATU, NENEK LALU PERGI MENYALAKAN LAMPU. LAMPU MENYALA HIJAU, NENEK TERKEJUT )

NENEK : Kenapa sayang, kenapa? (MENGAMBIL LILIN KAKEK, MENARUHNYA KE SEBELAH LILIN NENEK, LALU MEMADAMKAN KEDUA LILIN TADI) Apakah kau sakit ? Oh, jangan membingungkan saya, apa kau tadi berteriak keras ?

KAKEK : ( MENGGELENGKAN KEPALA )

NENEK : Saya mendengarkan suara.

KAKEK : Saya juga.

NENEK : Kau juga ? Suara apa ?

KAKEK : Suara yang dulu lagi. Aku mendengar suara yang dulu lagi.

NENEK : Aku juga mendengarnya.

KAKEK : Suara yang berulang kali datang.

NENEK : Ya ! Suara yang dulu.

KAKEK : Angin bertiup keras.

NENEK : Ya !

KAKEK : Lalu ketukan pintu.

NENEK : Ya !

KAKEK : Tapi kali ini ada tambahannya.

NENEK : ?????

KAKEK : Suara orang berkata. ( DIAM SEJENAK)

NENEK : Jadi kau juga mendengarnya ? Cobalah kau katakan bagaimana mendengar kata itu.

KAKEK : Kita berdua mendapat panggilan.

NENEK : Jadi kau pikir panggilan itu untuk kita berdua ?

KAKEK : Dau orang tua yang dua abad usianya, siap lagi kalau bukan kita ? Baru dua hari yang lalu aku merayakan ulang tahun yang ke 200.

NENEK : Coba menurut kau bagaimana kau mendengar suara itu ?

KAKEK : Tengah malam nanti, apabila angin mendayu dan bulan luput dari mata. Akan datang sebuah kereta kencana untuk menyambut kita berdua. Waktu itu aku sedang mencari-cari buku harianku di kamar perpustakaan, lalu kudengar suara itu isinya kurang lebih begitu, tapi aku tak tahu bagaimana persisnya.

NENEK : Aku tahu, aku juga mendengarnya. Engkau dua orang tua yang selalu bergandengan tangan dan bercinta, sementara siang dan malam berkejaran dua abad lamanya.
Wahaiwahai. Dengarlah aku memanggilmu, datanglah berdua bagai dua ekor burung dara. Akan kukirimkan kereta kencana untuk menjemput kau berdua. Bila bulan telah luput dari mata angin. Musim gugur menampari pepohonan dan daun-daunan yang berpusing.
Wahai.wahai.. di tengah malam di hari ini akan kukirimkan kereta kencana. Kereta kencana 10 kuda 1 warna.

KAKEK : Jadi kau dengar suaranya ? Sementara mendengar itu semua.

NENEK : Jantungku berkeridutan, penyakit yang lama kembali lagi.

KAKEK : Aku juga, penyakitku kembali lagi, tubuhku berkeringat dan nafasku sesak.

NENEK : Tahukah kau artinya semua ini ?

KAKEK : Ya ! Malam ini kita akan mati bersama.

(HENING, KAKEK MELANGKAH KE JENDELA DAN MEMBUKANYA)

NENEK : Kenapa kau buka jendela itu ? Hawa di luar sangat dingin.

KAKEK : Malam musim gugur.

NENEK : Kau nanti masuk angin.

KAKEK : Bintang bertebaran dan bulan nampak pucat, sebentar lagi akan datang angin-angin itu menbawa mendung, dan mendung itu akan membawa bulan luput dari pandang mata.

NENEK : Tutuplah jendela itu.

( KAKEK MENUTUP JENDELA, MENUJU KURSI PIANO, LALU DUDUK )

KAKEK : Aku merasa kosong.

NENEK : Angin buruk gampang membuatmu sakit, sayang.

KAKEK : Kita terlalu hidup, dan terlalu lama memeras tenaga untuk mengisi umur kita yang panjang ini. Berapa kali sajakah kita mengharap mati ? Tiap datang ketukan pintu, kita berpikir, inikah saatnya ? Tapi kita selalu salah duga.

NENEK : Tapi kali ini kita tidak akan salah duga.

KAKEK : Pasti, pasti tidak akan salah lagi. Setelah akan datang sungguh saat ini, beginilah rasanya.

NENEK : Apakah kau takut ?

KAKEK : Tak tahu, dan kau ?

NENEK : Tak tahu. Tapi sedihkah kau ?

KAKEK : Tidak. Sedihkah kau ?

NENEK : Saya kira tidak, aku tak tahu.

KAKEK : Tak tahu, itulah jawaban yang paling tepat. Kita balon yang berisi hawa. Tak takut, tak sedih, Cuma hawa yang hampa.

NENEK : Sebentar lagi takkan hampa-hampa juga. Kita sekali bisa mengisi hidup ini.

KAKEK : Aku merasa jemu dan lesu.

NENEK : Apa artinya kebudayaan kalau manusia tidak bisa menghibur dirinya.

KAKEK : Aku mau membuka jendela.

NENEK : Jangan, jangan sayang. Apakah kau akan bertingkah nakal lagi Henry ? Ah, kau terlalu banyak aku manjakan manis.

KAKEK : Aku tidak bertingkah, aku tidak berbuat apa-apa, hidupku sudah kosong.

NENEK : Jiwa dan akal lebih luas dari kejemuan. Kebudayaan kita harus menag dari kejemuan. Senyumlah sayang, senyum disaat seperti ini adalah kebudayaan.
KAKEK : Aku tidak mau tersenyum.
NENEK : Menyanyi ?

KAKEK : Tidak !

NENEK : Baiklah engkau seorang badut. (LAKUNYA SEPERTI BERKATA KEPADA ANAK KECIL)

KAKEK : Aku senang jadi badut. Ingatkah kau ketika aku masih mahasiswa? Aku pernah jadi juara lomba lawak.

NENEK : Tentu saja, engkau badut yang manis.

KAKEK : Manisku, aku sekarang badut.

NENEK : Badut yang pintar, bukan ?

KAKEK : Badut yang manja.

NENEK : Boleh, sekarang badut yang manja ingin apa ?

KAKEK : Saya ingin kau jadi layang-layang.

NENEK : Ini layang-layang (MENGEMBANGKAN TANGANNYA)

KAKEK : Uluuuuuur, tariiiiiiiiiiiiik, uluuuuuuuuuuur, tarik………….. uluuuuuuur-uluuuuuuuur…………. Ah putus.

(NENEK JATUH KE LANTAI, KAKEK TERTAWA SENANG )

NENEK : ( TERENGAH-ENGAH ) Wah, badutnya nakal. (TAPI NAMPAK NENEK SANGAT SENANG )

KAKEK : Hihihihihihihihihihi, lihatlah aku sendiri ketawa, kaulah badut dunia penghibur orang lain dan aku sendiri.

NENEK : (BERDIRI) Engkau tertawa dan mukamu segar seperti buah apel. Engkau mengalahkan kesempitan dan kekosonganmu, hiburan bukanlah pesta yang mahal. Hiburan sejati adalah kebijaksanaan (BERTEPUK TANGAN) Badutku, hore………. Hore……. (KAKEK MEMBUNGKUK HORMAT) Badut adalah raja kebudayaan (APPLAUSE DARI NENEK)

NENEK : Aku lelah sayang, maukah kau berbuat sesuatu untukku ?

KAKEK : Aku selalu bersedia sayang, Abunawas selalu bersedia.

NENEK : Tidak, engkau tidak lagi menjadi badut. Sekarang ganti jadilah Haodini main sulapan untuk saya.

KAKEK : Aku tidak mau. Tanganku yang tua tidak tangkas lagi main sulapan.

NENEK : Kalau begitu jadilah pagi hari.

KAKEK : Pagi hari manisku ?

NENEK : Ya ! Pagi hari.

KAKEK : Baiklah ini pagi hari. (MENGGAMBARKAN PAGI HARI DENGAN GERAK TANGAN) Pagi hari manisku.
NENEK : Terima kasih, hebat sekali, engkau sangat pandai, engkau mestinya jadi jendral, kalau engkau punya kemauan mestinya kau sudah jadi jendral sekarang.

KAKEK : Aku bukanlah jendral, aku hanya seorang profesor yang dilupakan.

NENEK : Tapi dulu kau pernah bergerilya, berjuang untuk Perancis. Engkaulah adalah pahlawan Perancis, putra Jeanne darc. Pahlawanku, apakah kau mencintai aku ?
KAKEK : Aku mencintaimu dengan semangat musim semi yang abadi.

NENEK : Cantikkah aku pahlawanku.

KAKEK : Engkau gilang-gemilang bagai putri Zeba !

NENEK : Darahku berdeburan, pahlawanku. Dengan hormat berbuat sesuatu untukku.

KAKEK : Ciuman-ciuman sudah terlalu badani, tapi…………. (MENGHAMPIRI MEJA) Akan kusajikan minuman untuk membujuk darahmu Zeba. Tuan putrid berkenan minum apa ? (ASOSIASI SEOLAH-OLAH ADA BENDA-BENDA ITU) Anggur dari Malaga, Wysky Scotlandia, Baounnet ? Martini ? Atau Champagne dari Canada ?

NENEK : (TERSENYUM)

KAKEK : Aha,…… atau teh dari Timur ?

NENEK : Terima kasih, ya.

KAKEK : (BERBUAT SEOLAH-OLAH MELAYANI TEH) Aha ? Inilah cawan dari Tiongkok, hasil karya tangan berbakat dari lembah Yang Tse Kiang (MENGAMBIL CANGKIR). Cangkir dan cawan berhias naga. Naga-naga ini berwarna hijau, karena disanapun hijau bagai zamrut. (MENUANG TEH). Dan inilah the dari Assam. Tuan putri ingin gula berapa ?

NENEK : Dua !

KAKEK : (MEMASUKKAN GULA MENGADUKNYA DAN MEMBERIKANNYA KEPADA NENEK). Teh dari timur untuk putri Zeba.

NENEK : Terima kasih pahlawanku, (MINUM TEH). Lezat sekali ! Ah (BANGKIT MENUJU KURSI GOYANG) Apakah sang pahlawan menghendaki kue-kue dan panganan ? dan silahkan panganan ini. Ini namanya kue Harapan Senja Kala Meskipun sebenarnya tidak lebih dari kue Cherio ditambah vanili telor dan irisan buah apel. (MENGAMBIL CAWAN) Ini juga bikinan Perancis tanah air kita. (MENGAMBIL GARPU DAN MENYUGUHKANNYA KEPADA KAKEK) Ini buat putra dari Perancis, pahlawan dari Orleance.

KAKEK : Terima kasih putri Zeba (MAKAN KUE)

NENEK : Enak ?

KAKEK : Lezat sekali.

NENEK : Dulu kau pernah gemar makan kue Cherio, tapi kemudian kegemaranmu selalu berubah-ubah.

KAKEK : Kau pernah membuat bistik dari Jerman yang lezat untuk saya.

NENEK : Ah iya ! Waktu itu kita gemar piknik dan main tenis, kenapa kita jadi tua.

KAKEK : Karena bumi berputar, berputar……………….

NENEK : Kau pintar sekali, mestinya kau jadi jendral.

KAKEK : (TIBA-TIBA DENGAN LEMAS DUDUK DI LANTAI). Aku bukan jendral. Aku hanyalah profesor yang dilupakan, aku sampah di buang.

NENEK : Jangan begitu ! Ayolah ! Bangkit dari lantai.

KAKEK : Aku orang hina, tempatku di tanah.

NENEK : Tidak. yang di tanah cuma cacing, pahlawanku selalu berdiri di atas kedua kaki. Engkau pahlawan Perancis, engkau pernah berjuang dan berperang untuk Perancis, engkau pernah mendapatkan Legion dhonour, engkau harus berdiri.

KAKEK : Hidupku hampa dan sia-sia.

NENEK : Putra Perancis berdirilah !
KAKEK : Aku orang terkutuk, aku tak punya anak, hidupku 200 tahun dan tak punya anak.

NENEK : (TERPAKU). Dengan hormat, saya minta………… (MULAI MENANGIS) dengan hormat sayang, dengan hormat manisku. Oh ! Kita tak boleh menangis. Bulan akan luput dari mata, kereta kencan akan tiba, kita tak boleh menangis, kita punya kebudayaan, kita tak boleh menangis (TIBA-TIBA) Henryyyyy mari, inilah bayi kita menangis Henry.

KAKEK : (MENDEKAT, NENEK MULAI BERSENANDUNG LAGU CRADLE SONG) Siapa nama anak kita ?

NENEK : Jean Valjan (DIBACA ZYONG VALZYONG).

KAKEK : Jean Valjan dari Les Misserable ? Jadi ia laki-laki ?

NENEK : Ya, laki-laki. Ah, bayi kadang-kadang membingungkan apakah ia laki-laki atau perempuan. Lihatl;ah sayang, mulutnya seperti mulutmu.

KAKEK : Hidungnya seperti hidungmu.

NENEK : Cobalah dukung dia.

KAKEK : Tak mau.

KAKEK : Ayolah Henry. (KAKEK MENDUKUNG TAPI KELIRU) Ya Tuhan jangna begitu (MEREBUT BAYI DARI KAKEK). La, laaaaaaaala lililililili, lulululululu, bayi harus diperlakukan secara halus, ia sangat lemah seperti kupu-kupu yang baru ke luar dari kepompongnya, lililililili…… lulululululu……

KAKEK : Oh,.. oh,……. Oh,…….!

NENEK : Kenapa ?

KAKEK : Bayinya kencing !

NENEK : Oh, oh, (RIBUT) Bayi nakal (MELETAKKAN BAYINYA DIBUAIAN) Ia nakal seperti papanya (MENGANTIKAN POPOK BAYI). Kalau ia sudah besar ia akan menjadi Jendral. Henry, cobalah kau sekarang menimangnya.

KAKEK : Aku belum bisa, beri dia makan dulu.

NENEK : Lili………li……..lulululu…….lu

KAKEK : Lalalalala..lalalala…….laaaaaaaaaalala………

NENEK : Anakku sayang, bungaku sayang, bintangku sayang, boboklah. Boboklah, boboklah supaya lekas besar.

KAKEK : (MEMAINKAN BIBIRNYA). Brrrrrrrrr, Brrrrrrrrrrrrrrr, brrrrrrrr, papa pinta ya! Papa gagah ya! Papa lucu ya!

NENEK : Kau menimang dirimu sendiri, bukan bayinya.

KAKEK : (TETAP MEMAINKAN BIBIRNYA). Brrrrrrrrrr, brrrrrrrrrrr (TIBA-TIBA MENINGGALKAN BUAIAN). Ah, aku sudah bosan bayinya nangis saja.

NENEK : (PERGI DULU KE KURSI BAGUS). Sekarang kita main halma ?
KAKEK : Malas.

NENEK : Sekarang baiklah, kau sekarang mendongeng saja.

KAKEK : Mendongeng apa ? Serigala dengan anggur ?

NENEK : Tidak, sambungan yang lalu.

KAKEK : Baiklah kalau belum bosan……… maka setelah pengembaraan yang lama itu, sampailah kita kesebuah gerbang besi yang besar, kita telah basah kuyub. Berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan kehujanan, kita menggigil dan gigi gemeretukkan. Ini terjadi seratus dua puluh lima tahun yang lalu, ingatkah kau waktu kita minta dibukakan pintu, tapi mereka tak mau membukakannya. Dibalik gerbang itu ada padang rumput, dan ada jalan berkerikil yang menuju ke sebuah puri. Maka puri itu di kelilingi oleh kebun dan taman, dan taman itu penuh dengan bunga anggrek dan gladiol……. Kita tak diperkenankan masuk, kita harus mengembara lagi, 125 tahun lagi. Kita tiduri kota, seluruh ibu kota di dunia. New York, New Delhi, Angkara, Peking, Madrid, Jakarta……….

NENEK : Kota yang indah bukan ?

KAKEK : Lambang kebudayaan.

NENEK : Tapi London telah hancur…………

KAKEK : London hancur, Madrid hancur, Moskow jadi padang belantara, di Berlin tumbuh semak belukar lebat, dan tak terduga New York telah menjadi rawa.

NENEK : Dan Paris, manisku ? Paris yang dulu kau bela dengan senjata itu ?

KAKEK : Dan Paris kota yang tercinta itu telah hancur, kota yang jaya itu telah lebur manisku. Batu bata di atas batu bata telah punah.Eifel terjungkir balik, Arc de Triumph hilang dengan jejaknya dan Noterdam dun Paris telah terlibat oleh sangkala, hanya tinggal sebuah lagu di kota itu.

NENEK : Sebuah lagu ?

KAKEK : Sebuah lagu buaian, sebuah perumpamaan.

NENEK : Kota yang malang

KAKEK : Kota tercinta yang malang.

(PINTU DIKETUK KERAS-KERAS, NENEK DAN KAKEK TERKEJUT)

NENEK : Ada tamu.

KAKEK : Apakah bulan sudah luput dari pandangan mata ?

(KETUKAN PINTU)

NENEK : Bukalah pintu.

KAKEK : Apakah itu betul-betul tamu?

(KETUKAN PINTU)

NENEK : Putra Perancis, bukalah pintu.

(KAKEK MEMBUKA PINTU, TERKEJUT)

KAKEK : Perdana Menteri !

NENEK : Perdana Menteri ! (MENYAMBUT DENGAN GEMBIRA)

KAKEK : Ya, Perdana Menteri. Silahkan masuk yang mulia (ABSTRAK. KAKEK MEMBETULKAN PAKAIANYA, MEMBAWA TAMUNYA KE RUANG TENGAH ) Yang mulya inilah istri saya.

NENEK : Yang mulya.

KAKEK : Maafkanlah Yang mulya, harap topinya di bawa saja, di sini tidak ada kapstok, mantelnya juga harap dibawa saja.

NENEK : Maafkanlah keadaan rumah ini.

KAKEK : Semuanya sudah dimakan oleh sangkala. Rumah terlalu besar, orangnya terlalu kecil, tambah perabot rumah sudah punah. Tinggal kami berdua saja yang tinggal di rumah, sebagai dua ekor tikus yang pengap.

NENEK : Matahari menjahui kami.

KAKEK : Kami ini tikus yang tidak dikehendaki orang lagi.

NENEK : Silahkan duduk (MENUNJUK KE KURSI BAGUS). Bagaimana ?

KAKEK : Oh ? Paduka Perdana Menteri ingin duduk di kursi goyang. Silahkan Yang mulya, ya silahkan. (BERHENTI SEJENAK). Kami berdua mengucapkan terima kasih atas kunjungan paduka, yang berarti kehormatan bagi kami.

NENEK : Kunjungan paduka membuat kami bangga dan mendapatkan diri kami.

KAKEK : Oh ya, betul ! Sebenarnya dulu para perdana menteri suka mengunjungi kami. Ya perdana menteri Inggris, India, dan juga Khaisar Jepang, presiden America, Presiden Philipina dan Sekretaris PBB pernah datang mengunjungi kami.
Apa ? Oh ya, mereka datang meminta nasehat saya, mengenai urusan pemerinatahan. Pengadilan, Liberalisme, ataupun perlucutan senjata (MENJELASKAN).
Bagaimana ? Tidak, tidak…… saya tidak memberi nasehat, tak ada gunanya……… saya hanya memberi teka-teki saja.

NENEK : Tetapi sekarang dunia telah melupakan (SEJENAK). Ia telah ditindas roda jaman.

KAKEK : Begitu Paduka…………. Oh ya, terima kasih, saya sangat bersuka bahwa paduka tidak melupakan saya………..
Apa ?……. Oooo ya, ………. Astaga, jadi paduka pernah jadi murid saya ? Pada waktu saya di Sorbonne ? Tahun berapa ? .Oh ! Dan mata kuliah apa yang paduka ambil pada waktu itu? Filsafat, apa kimia, apa sejarah ? Oh ekonomi……. Ya saya pernah mengajar semua itu, dan juga enthnologi, dan ilmu pasti. Ya……… saya pernah juga mengajar di fakultas kedokteran, saya menjadi dokter bedah ketika umur saya 32 tahun (TERTAWA).
Tidak, tidak……… saya tidak pernah jadi mantri. Saya hanya punya satu muka, sebab itu saya tidak bisa jadi politikus. Tidak, saya tidak berpendapat bahwa politikus punya dua muka, tapi saya berpendapat bahwa politikus punya seribu muka.

NENEK : Henry, jagalah lidahmu !

KAKEK : (KEPADA YANG MULIA) Bagaimana ? Ya, ya.. Kalau paduka marah boleh saja. Oh…….begitu, syukurlah kalau paduka tidak marah. Paduka seorang yang baik, memang kalau begitu paduka tidak suka bolos kuliah, bukan ? (TERSENYUM). Paduka memang seorang yang baik, dan juga paduka tidak pernah melupakan gurunya. Itu bagus, baiklah…….. sekarang harap diberi tahu, apakah perlunya paduka berkunjung kemari ? (BERHENTI SEJENAK). Apakah sesuatu yang bisa saya tolong…… Paduka telah tahu hal itu ? …….. Apa ? Ya, ya kami tidak akan mengadakan pesta perpisahan…….. Apa ? Muridku yang lain akan datang ? Wah ! Manisku bagaimana ini, sebentar lagi akan banyak tamu datang…………. Mereka ingin mengadakan pertemuan perpisahan dengan kita.

NENEK : Ya, ya……. Tapi rumah kita sudah bobrok, tak ada perabotan kecuali yang ada ini. (KEPADA YANG MULIA) bagaiman Yang mulia ?……….. Ya, betul……… mereka akan berdiri, tetapi saya malu……..dan ruang yang lain lebih buruk lagi.

(PINTU DIKETUK DENGAN KERAS DAN BERULANGKALI)

KAKEK : Mereka datang.

NENEK : ?????? Mereka datang, buka pintu !

KAKEK : (MEMBUKA PINTU DAN TAK ADA YANG NAMPAK)
(NENEK DAN KAKEK SIBUK DENGAN PARA TAMU)
Selamat datang Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya (ORANG-ORANG MENGAJAK BERSALAMAN). Nah itu istriku (SEOLAH-OLAH MENGAJAK TAMU UNTUK BERSALAMAN, NELAYANI PARA TAMU). Selamat datang, selamat malam, sayang atap rumah ini sudah hancur, perabot sudah habis. (ORANG TERUS DATANG DAN MENYALAMI, DAN ADA BEBERAPA ANAK KECIL). Selamat datang Tuan-tuan, selamat datang Nyonya-nyonya, selamat datang manis, selamat datang sayang, selamat datang mensinyur kardinal, selamat datang senator, selamat datang jendral, selamat datang kapten……… Ahaaaaa, inilah bintang film Perancis yang paling cantik, selamat datang. (SELAMA INI NENEK MENYAMBUNG). Selamat datang Mastro, selamat datang, Ayooooo silahkan duduk, nyonya yang dekat kursi itu, silahkan duduk. (MEREKA MEMAKSA KEDUANYA DUDUK). Apa saya sendiri………. (KEPADA NENEK) Ah, bagaimana ini ? Tidak saya berdiri saja. Wah, wah,…….. Baiklah. (MEREKA DIDORONG DUDUK DI KURSI) Bagus,bagus…….

NENEK : Kita tidak pantas duduk Henry, biarlah mensinyur saja.

KAKEK : Ya, jendral saja.

NENEK : Ya, baiklah kalau kami dipaksa ! Apa boleh buat.

KAKEK : Oh ya, saya lupa. Tuan-tuan, dan nyonya-nyonya saya perkenalkan tamu saya yang pertama ialah………. Paduka……. Hei, di mana beliau tadi ? Di mana ? Oh ! Itu dia ! Wah, wah. Jadi sudah kenal ? Maafkanlah orang tua gampang lupa.

NENEK : Henry, ucapkanlah pidato selamat datang. Ya, ya…….. ia akan pidato nanti.

KAKEK : Ah, tidak usah saya……….

NENEK : Henry. Ingat etika.

KAKEK : Baiklah……… (SEGAN-SEGAN BERDIRI DAN PIDATO DENGAN LANCARNYA). Yang mulya mensinyur kardinal, para uskup, para guru, para maha guru, para jendral, para senator, tuan tukang kayu, tuan penjual kelontong, tuan tukang kebun, tuan tukang masak, anak-anak yang manis, dan ya semua saja hadirin yang saya sayangi.
Kami ucapkan selamat datang, saya tidak akan berpidato dengan panjang lebar, dan sukar, karena banyak anak-anak berada ditengah kita. Maka dari itu pembicaraan kita akan bersifat sepanjang umur saja. Sebentar lagi bulan akan luput dari mata, angin menderu dan jam menunjukan tengah malam. Lalu datanglah kereta kencana itu, saya berterima kasih bahwa para hadirin telah suka datang untuk mengucapkan kata perpisahan. Tuan-tuan , nyonya-nyonya………………… Apa ? Bagaimana …………. Anak-anakku ?………….. Ah saya tidak boleh memakai kata anakku, sebab ada para menteri, para kardinal……….. Bagaimana ? ………………. Ah, baiklah……….. Anak-anakku……………… (TIBA-TIBA MENANGIS).

NENEK : Kenapa sayang, kenapa ?

KAKEK : Lihatlah……………. Ini semua anak kita. Di saat ini setelah 170 tahun. Nanti akhirnya diperkenankan juga kita mempunyai anak sebanyak ini, merekalah bunga Perancis, ahli waris dari prinsip-prinsip perjuangan yang telah kubela dengan senjata, ahli waris dari lagu cinta yang abadi. Ahli waris yang menantang penindasan dan penjajahan…………….. Anak-anakku………. Bapak ingin berburu bersama putra-putranya, bapak ingin bermain catur bersama dengan putri-putrinya…………. Anak-anakku (MENANGIS DENGA HEBAT DAN KEHABISAN DAYA DAN TERTUNDUK).

NENEK : (MEMBELAI KAKEK) Henry sayang, pahlawanku sayang…………... diamlah, pada suatu saat saja………. Ketika langit di timur bersinar jingga, di atas air laut yang juga jingga, adalah seekor elang laut yang hendak terbang meninggalkan sarang. Ia mempunyai dua ekor anak, dan keduanya menanggis semuanya, mereka semuanya tidak suka ditinggalkan ibunya. Ibunya menerangkan, bahwa sebentar lagi akan lapar……….. kalau lapar perut jadi sakit, dan lemas. Sebab itu ibu harus pergi ke laut, di laut banyak ikan-ikan yang lezat denga sisik megkilat. Ibu akan menangkap ikan-ikan itu itu untuk sarapan pagi anak-anaknya………. Aanak-anakku berhentilah menangis ………… dan anak-anakkupun berhenti menangis………… (TANGIS KAKEK REDA)

(PINTU DIKETUK DENGAN KERAS)

NENEK : Ada tamu.

KAKEK : (BERDIRI) Siapa ? Buka pintu (PERINTAH)

(PINTU DIBUKA ORANG DAN NAMPAKNYA ORANG-ORANG RIBUT)

NENEK : Siapa yang datang? Siapa Kaisar?

KAKEK : Kaisar ?

NENEK : Apa di Perancis ada Kaisar ?

KAKEK : Minggir semua, minggir, (SEMUA MINGGIR DAN KAKEK MENUJU KE PINTU, IA BERHENTI, DAN KEMUDIAN JATUH KE LANTAI). Siapa tuan yangdatang melangkah dengan cahaya gilang-gemilang ? cahaya tuan menyilaukan mata, mata tuan bagaikan matahari tak kenal senja. Di depan tuan saya jatuh tak berdaya………………… Kaisar ? Bukan, …………… Kekaisaran dari bumi.
Kekaisaran dari kerajaan yang terang dan benar………….berlutut ………………. Semua berlutut ntuk kaisar (SEMUA BERLUTUT, KAKEK MEMPERSILAHKAN TAMUNYA).
Sri baginda, hamba tak pantas mendapat kunjungan paduka, tetapi berkata sepatah kata saja tentu akan menjadi bersih. Hamba harap diampunkan, sebab hamba terpaksa memasukkan baginda ke dunia dosa. Silahkan…………….. minggir, minggir Sri bagind akan duduk di kursi goyang. (SETELAH BAGINDA DUDUK KAKEK MENGANDENG NENEK MENGHADAP KAISAR). Baginda inilah istri hamba. Ayolah manisku, sri baginda mintakita berdiri (KEDUANYA BERDIRI BERGANDENGAN TANGAN). Kunjungan baginda berarti kehormatan bagi kami, lebih dari itu, suatu karunia. Ya, ya hamba sudah menduga arti kedatangan baginda………… ya seperti juga yang lain, memang hamba mengerti, kami telah menanti. Demikianlah………… bila bulan telah pudar………….. bila angin mendayu………… ya, bulan tengah malam pukul dua belas. Ya, hamba percaya percaya kereta itu pasti bagus, suatu kemulyaan. Tidak, kami tidak lagi berkisah, cahaya telah datang………… permohonan terakhir.

NENEK : Ya, ucapkan permohonan terakhir sayang.

KAKEK : Oh, apa yang kan aku ucapkan ? Sri baginda inilah permohonan kami yang terakhir.
Kaisar dari kerajaan benar dan terang, kami mohon ampun bagi yang mulya uskup, para jendral, para senator, para tukang kebun, para tukang kayu, para tukang masak, para anak-anak manusia, untuk istri yang tercinta, yang telah tua ini. Dan untuk seekor cacing tanah ialah hamba sendiri yang hina dina.

NENEK : Terima kasih baginda.

KAKEK : Terima kasih sri baginda.

NENEK : Kami mengerti.

KAKEK : Ya, kami mengerti dan siap

NENEK : Kami siap dan menanti.

KAKEK : Setiap detik

NENEK : (TIBA-TIBA)
Minggir, minggir sri baginda akan kembali, beri hormat dan minggir.

(ANGIN MASUK MENDERU. KAKEK DAN NENEK MEMEGANG PAKAIANNYA)

KAKEK : Angin.

NENEK : Angin yang menderu.

KAKEK : Minggir, minggir……………….
Saya mau mengantar sri baginda, beri aku jalan.
Minggir, hai………………………..
Mengapa kalian pergi bersama baginda ? Hai…………………

(HENING. MEREKA TELAH LENYAP SEMUA)

NENEK : Tutuplah pintu.

KAKEK : (TERHENTI DI PINTU) Langit mendung dan bulan lenyap dari mata.

NENEK : Dengan segenap kasih tutuplah pintu, manisku.

(KAKEK LALU MENUTUP PINTU, LALU PERGI KE KURSI GOYANG, NENEK KE KURSI PIANO)

NENEK : Apakah kau takut ?

KAKEK : Tidak, aku berdebar-debar.

NENEK : Perpisahan badan bukan berarti perpisahan jiwa.

KAKEK : Kita berdua tak akan dipisahkan.

NENEK : Henry, aku mencintaimu.

KAKEK : Kita adalah dua tangkai mawar yang saling berbelitan, akupun mencintaimu.

NENEK : Ingkatkah kau pohon landen di kebun rumah orang tuaku.

KAKEK : Pohon lenden itu manisku ?Adalah kipas raksasa yang mengagumkan.

NENEK : Kita berdua suka membaca buku di situ, waktu itu kau sedang gila belajar kesusastraan, kau ucapkan padaku sebuah sajak John Concord yang bernama Huesca.

KAKEK : Dan kau lalu mengucapkan sajak Van Ostajen yang bernama Malopee.

NENEK : Maukah kau mengucapkan Huesca sekali lagi untuk saya?

KAKEK : Maukah kau mengucapkan Malopee sekali lagi untuk saya ?

(NENEK BERDIRI MEMULAI, KAKEK MENYAMBUNG DENGA HUESCA)

NENEK : Terima kasih manisku.
(BUNYI KERETA)

NENEK : Dengarlah.

KAKEK : Kereta.

NENEK : Kereta kencana.

(TIBA-TIBA KEDUANYA MEMEGANG JANTUNGNYA DENGAN KESAKITAN, KAKEK MAJU DUA LANGKAH )

KAKEK : Putri Zeba, inilah teh dari Timur. (MAJU DUA LANGKAH)

NENEK : Inilah kue Cherio untuk putra Perancis.

(KEDUANYA RUBUH, LONCENG BERDENTANGAN DUA BELAS KALI. LAMPU PADAM DAN SELESAILAH SANDIWARA INI )


PPPG KESENIAN YOGYAKARTA
29 JANUARI 2004





BILA MALAM BERTAMBAH MALAM

KARYA PUTU WIJAYA


BABAK I

MALAM DI TEMPAT KEDIAMAN GUSTI BIANG. SEBUAH BALE YANG DISEMPURNAKAN UNTUK TEMPAT TINGGAL.

GUSTI BIANG MEMANGGIL-MANGGIL WAYAN.


Adegan I

KELIHATAN NYOMAN SEDANG MENYIAPKAN MAKAN MALAM UNTUK GUSTI BIANG. SEMENTARA WAYAN MENGAMPELAS PATUNG. ORIGINAL SOUNTRACK: WAYAN .. Wayaaaaaan ....
NYOMAN MEMBERI ISYARAT KEPADA WAYAN.

NYOMAN
Benar Ida akan pulang hari ini?

WAYAN
Ya ....


Adegan II

DI RUANG DEPAN ADA KURSI GOYANG DAN KURSI TAMU. GUSTI BIANG NGOMEL TERUS.

GUSTI BIANG
Si tua itu tak pernah kelihatan kalau sedang dibutuhkan. Pasti ia sudah berbaring di kandangnya menembang seperti orang kasmaran pura-pura tidak mendengar, padahal aku sudah berteriak, sampai leherku patah. Wayaaaaan ..... Wayaaaaan tuaaaa.....

WAYAN
Nuna sugere GUSTI BIANG, kedengarannya seperti ada yang berteriak ................

GUSTI BIANG
Leherku sampai putus memanggilmu, telingamu masih kamu pakai tidak?

WAYAN
Tentu saja Gusti Biang, itu sebabnya tiyang datang .........

GUSTI BIANG
Jangan berbantah denganku. Kau sudah tua dan rabun, lubang telingamu sudah ditempati kutu busuk. Kau sudah tuli, malas dan suka berbantah, cuma bisa bergaul dengan si belang. Kau dengar itu kuping tuli?

WAYAN
Betul Gusti Biang.

WAYAN MENINGGALKAN RUANGAN DAN GUSTI BIANG TETAP DUDUK DAN MENGAMBIL JARUM. BERULANG-ULANG MENGGOSOK MATA SAMBIL MENGGERUTU.


Adegan III

GUSTI BIANG
Lubangnya terlalu kecil. Benangnya terlalu besar, sekarang ini serba terlampau. Terlampau tua, terlampau gila, terlampau kasar, terlampau begini, terlampau begitu. Sejak kemarin aku tidak berhasil memasukkan benang ini. Sekarang mataku berkunang-kunang. Oh, barangkali toko itu sudah menipu lagi. Atau aku terbalik memegang ujungnya? Wayaaaaan ...

NYOMAN (Muncul Dengan Baki Di Tangannya Dan Lampu Teplok)
Bagaimana Gusti Biang? Sudah sehat rasanya.

GUSTI BIANG TIDAK MENGHIRAUKAN DAN TETAP MEMASUKKAN BENANG KE JARUMNYA

NYOMAN
Gusti Biang, ini air daun belimbing, bubur ayam yang sengaja tiyang buatkan untuk Gusti.

(Melihat Kesulitan Gusti Biang)

Mari tiyang tolong.

GUSTI BIANG
Waaayaaaaan ...

(Kaget Karena Sentuhan)

Ulaaaaar......

NYOMAN
Ya ya kenapa Gusti terkejut ini kan Nyoman ....

GUSTI BIANG
Kau? Kau

TERBATUK

NYOMAN
Nah, itu sebabnya kalau belum santap malam. Apalagi sejak beberapa hari ini Gusti sudah tidak mau minum jamu lagi, minum sekarang ya?

GUSTI BIANG
Kau .. kau setan, kukira ular belang jatuh dari pohon, bikin sakit jantungku kumat lagi.

NYOMAN
GUSTI BIANG takut sekali dengan ular, kenapa?

GUSTI BIANG
Binatang itu menggigit dan menjijikkan.

NYOMAN
Tapi tidak semua ular berbahaya.

(Tersenyum)

Tiyang juga takut pada ular.

GUSTI BIANG
Aku tak perduli. Apa tugasmu di sini?

NYOMAN
Sekarang sudah saatnya Gusti Biang minum obat.

GUSTI BIANG
Hari ini aku tak mau minum obat.

NYOMAN
Oh ya, baik tiyang tolong dulu Gusti memasukkan benang ke jarumnya.

GUSTI BIANG
Juga tidak. Kau tidak diperlukan di sini

NYOMAN (Memungut jarum di lantai)
Coba dari tadi memanggil tiyang, tidak jadi kusut begini. Gusti Biang terlalu sayang pada Bape Wayan. Lihat gampang bukan?

GUSTI BIANG
Kau jangan menyindir aku, tentu saja semuanya bisa begitu. Aku juga bisa mengerjakannya, tapi lobangnya yang terlampau sempit.

NYOMAN
Terlampau sempit? Piih, semua jarum dibuat kecil Gusti, makin halus makin mahal harganya

TERSENYUM

GUSTI BIANG
Siapa bilang? Itu tak ada lobangnya sama sekali, toko itu menjual kawat utuh kepadaku. Setan alas.

NYOMAN
Tak percaya? Coba sekali lagi.

GUSTI BIANG
Jangan berlagak di sini

(Mengacungkan tongkat).

Ini bukan arje roras! Aku sudah bosan dibohongi dengan sulapan palsumu. Kau pikir aku tak bisa menguasai jarum kecil itu, piih, lakiku sendiri tak pernah menghina aku demikian ...

NYOMAN
Ambilah Gusti Biang. Gusti boleh menyulam sekarang

(Melihat lampu).

Tapi di sini terlalu gelap

(Membesarkan).

Nah, sekarang sudah cukup terang. Ambil Gusti.

GUSTI BIANG
Tidak! Kau mulai menyulap aku lagi, aku tak sudi menyentuh barang sihirmu. Suasana kotor sekarang.

NYOMAN
Kalau begitu, tiyang ikatkan saja ujung benang ini ke kainnya, nanti Gusti Biang meneruskannya saja.

GUSTI BIANG
Pergi! Pergi! Nanti kupanggilkan Wayan supaya kau diusir ....

(NYOMAN TIDAK PERDULI, MENERUSKAN SULAMAN SAMBIL BERNYANYI KECIL)

GUSTI BIANG
Dewa Ratu .. Kau telah merusak sarung bantal anakku .... Waayaaannn.. Waayaaaaaan ....Dimana pula setan itu, Wayaaaan ....

NYOMAN
Sayang sekali Gusti Biang tidak menyuruh Tiyang yang mengerjakannya. Mestinya, ditengahnya bisa disulam dengan warna biru muda. Lalu dengan menulis rapih “Selamat malam kasih, selamat malam pujaan, selamat malam manis, good night my darling”.

GUSTI BIANG
Setan! Setan! Kau tak boleh berbuat sewenang-wenang di rumah ini. Berlagak mengatur
orang lain yang masih waras. Apa good, good apa? Good bye! Menyebut kekasih, manis, kau pikir apa anakku. Wayan akan menguncimu di dalam gudang tiga hari tiga malam, dan kau akan meraung seperti si belang.

NYOMAN
Aduh cantiknya Gusti Biang. Seperti seekor burung merak. Seperti lima belas tahun yang lalu ketika tiyang masih kecil dan sering duduk di pangkuan Gusti. Masih ingatkah Gusti?

GUSTI BIANG
Tak kubiarkan lagi kau bermain di pangkuanku, berak, ngompol. Memang aku ini pelayanmu?

NYOMAN
Gusti Biang memang orang yang paling baik dan berbudi tinggi. Tidak seperti orang-orang lain, Gusti. Gusti telah menyekolahkan tiyang sampai kelas dua SMP, dan Gusti sudah banyak mengeluarkan biaya. Coba tengok bayangan Gusti di muka cermin, seperti
tiga puluh tahun saja .. Mau minum obatnya sekarang Gusti?

GUSTI BIANG
Tidak!

NYOMAN
Tiyang cicipi ya? Cobalah Gusti Biang ... mmm segar.

GUSTI BIANG
Sepatahpun aku tak ingin bicara lagi denganmu.

NYOMAN
GUSTI BIANG, pil ini musti ditelan satu persatu. Pakai pisang ambon atau pisang susu, atau air. Pilih mana yang Gusti suka. Tidak pahit rasanya Gusti. Dan dalam tempo seperempat jam, Gusti akan merasa segar. Sesudah itu minum puyer ini, untuk menghilangkan pusing-pusing Gusti.

GUSTI BIANG
Tidak!

NYOMAN
Obat-obat ini dikirimkan dokter Gusti. Harus dihabiskan.

GUSTI BIANG
Tidak, tidak. Aku tahu semuanya itu. Kalau aku menelan semua obat-obatmu itu, aku akan tertidur seumur hidupku, dan tidak akan bangun-bangun lagi, lalu good bye. Lalu kau akan menggelapkan beras ke warung cina. Kau selamanya iri hati dan ingin membencanaiku ... Kalau sampai aku mati karena racunmu, Wayan akan menyeretmu ke pengadilan.

NYOMAN
Dan yang terakhir baru menggosok punggung dan seluruh anggota badan Gusti yang terbuka dengan minyak kayu putih.

GUSTI BIANG
Tidak, tidak. Tidak akan kubiarkan tubuhku ditelanjangi dan disentuh orang-orang yang kurang ajar. Aku bukan ibumu, aku bukan nenekmu.

NYOMAN
Nah sekarang kita mulai dengan tablet-tablet ini Gusti. Menurut resep boleh ditelan atau dihancurkan, mana yang Gusti pilih. Kita mulai dengan pil merah ini Gusti.

GUSTI BIANG
Dewa Ratu ....

NYOMAN
Sebaiknya ditelan saja Gusti, itu yang paling aman ....

GUSTI BIANG
Aku tak mau dibujuk, mana si Wayan kambing tua itu. Setan ini benar-benar mau meracuniku, Waaayaaaan ..

NYOMAN
Ayo cepat Gusti. Tidak akan merasa pahit dan sakit.

GUSTI BIANG
Wayan tolong Wayan.

NYOMAN
Letakkan saja di atas pisang di ujung lidah. Lantas pejamkan mata. Lihat, dan secepat kilat akan meluncur Gusti.

GUSTI BIANG
Ah ... racunlah dirimu sendiri, gosok punggungmu sendiri. Buat apa kau meributkan benar penyakit orang lain. Itu tugas dokter di rumah sakit, dan bukan tugas penyeorangan seperti engkau .... Kalau memang aku sakit, aku akan berbaring di kamarku, dan memanggil Wayan supaya memijat keningku. Tidak ada yang salah kalau lelaki itu di sini. Wayaaaan
..Wayaaaan, lehermu akan diputar nanti.

NYOMAN
Kenapa Gusti Biang jadi seperti ini, Gusti mengecewakan tiyang.

GUSTI BIANG
Sakit gede, seumur hidupmu. Kalau akhirnya aku mati karena racunmu, awas-awaslah, rohku akan membalas dendam. Aku akan diam di batang-batang pisang dan di batu-batu besar, dan akan mengganggumu sampai mati. Tiap malam, bila malam bertambah malam. Setan, pergi kau, pergi. Sebelum kulempar dengan tongkat ini, pergi!

NYOMAN
Baiklah Gusti. Baiklah Gusti, tak apalah. Tapi tentunya Gusti lebih senang kalau puyer ini yang diminum lebih dahulu, baru kemudian menyusul pil-pil yang lain, atau Gusti ingin bersantap malam dulu. Percayalah Gusti, tidak akan terjadi apa-apa.

GUSTI BIANG
Wayaaaaaan ... Wayaaaaa. Tolong Wayaaaaaan ...

NYOMAN
Lihat Gusti. Gusti sudah merusak badan Gusti sendiri dengan berteriak-teriak.

GUSTI BIANG
Pergi kau leak. Pergi pergi ...pergi ...

NYOMAN
Gusti telah menyakiti tiyang lagi. Saya akan pergi. Saya akan pergi sekarang juga.

GUSTI BIANG
Ya, pergi kau sekarang juga. Bedebah. Leak. Pil-pil tiap hari dicekoki pil.

NYOMAN
Waktu putra Gusti pergi lima tahun lalu. Ide berpesan pada tiyang. Jaga baik-baik ibuku NYOMAN, peliharalah kesehatannya, jangan biarkan beliau menderita. Sekarang Gusti Biang dinyatakan sakit. Gusti harus berobat.

GUSTI BIANG
Diam! Diam!

NYOMAN
Baiklah kalau begitu

(Hendak pergi)

Gusti tidak usah berobat. Ya, apa peduli tiyang, segera Gusti akan terkapar lesuh. Malam akan bertambah malam jua

SAMPAI DI PINTU IA BERBALIK DAN MENDEKATI MEJA

GUSTI BIANG
Apa perdulimu?

NYOMAN
Tapi semua itu akan segera hilang ...Kalau Gusti mau meneguk air daun belimbing ini. Jamu ini diramu berdasarkan petunjuk dukun kesayangan Gusti Biang. Tiyang sudah mencampurnya dengan akar-akaran yang harum dan akan menguatkan badan. Pasti Gusti Biang tidak akan batuk lagi. Gusti Minumlah .....

GUSTI BIANG
Kau memang setan licik!

(Berteriak hendak memukul. Nyoman menarik dari belakang)

Lepaskan! Lepaskan leak! Wayan, Wayaaaan

NYOMAN BERHASIL MENDUDUKKAN GUSTI BIANG DI KURSI TAPI GUSTI BIANG MEMUKUL BERTUBI-TUBI DAN NYOMAN BERLARI KE SUDUT RUANG

NYOMAN
Cukup! Cukup! (Berlari mengelilingi meja)

GUSTI BIANG (Terus memukuli Nyoman dan Nyoman merebut tongkat)
Wayan tolong Wayaaaan ...

NYOMAN
Tak tiyang sangka Gusti sudah seberat ini! Tak tiyang sangka. Tiyang akan pergi ke desa, tak mau meladeni Gusti lagi!

GUSTI BIANG
Pergi leak! Aku sama sekali tidak menyesal!

NYOMAN (Berlari keluar)
Tiyang tidak akan kembali lagi!

GUSTI BIANG
Pergi sekarang juga! Wayaaan Wayan tua ...

(Duduk)

Ratu Singgih, moga-moga tulahlah perempuan itu, Wayaaan ..........

Adegan IV

WAYAN MASUK

WAYAN
Kalau tak salah seperti ada yang berteriak ...

GUSTI BIANG
Tua bangka, ke mana saja kau tadi, kenapa baru datang?

WAYAN
Tiyang ketiduran di gudang.

GUSTI BIANG
Kejar setan itu, putar lehernya! .. Kejar dia goblok!

WAYAN
Mana ada setan sore-sore begini Gusti?

GUSTI BIANG
Kejar perempuan setan itu.

WAYAN
Perempuan, perempuan yang mana Gusti?

GUSTI BIANG
Begundal itu! Masukkan dia ke gudang!

WAYAN
Maksud Gusti, Nyoman?

GUSTI BIANG
Usir dia dari rumah ini!

WAYAN Tetapi ... tetapi ...

GUSTI BIANG
Tua bangka, pukul dia sampai mati, putar lehernya. Diam saja seperti kambing!

WAYAN (Tertawa)
Gusti, Gusti, tidak ada kambing di sini!

GUSTI BIANG
Kau juga tidak waras!

WAYAN
Tetapi, memukul? Memutar leher?

GUSTI BIANG
Penakut!

WAYAN
Tidak, titiyang tidak takut sama leak atau memedi, tetapi memutar leher Nyoman, piih, lebih baik memutar leher tiyang sendiri. Perawan yang begitu cantik, baik, mahal.

GUSTI BIANG
Dia mau meracunku.

WAYAN
Meracun? Masak, ada yang berniat meracun Gusti.

GUSTI BIANG
Kau tukang ngotot.

WAYAN
Jangan gampang marah Gusti, itu cuma angan-angan. Sabarlah. Kalau usia sudah lanjut, tambahan lagi penyakitan, tak baik marah-marah malam begini!

GUSTI BIANG
Bedebah! Anjing ompong! Setelah mengusir dia aku akan mengutuk kau, biar ,mati kelaparan di pinggir kali.

WAYAN
Baik, kutuklah tioyang. Usir sekarang, tapi jangan menyuruh menyakiti orang dalam usia lanjut. Orang sedang bertapa dan bertobat disuruh mukul orang. Kalau ular belang atau ular hijau, cacing tanah atau ulat bulu, Wayan akan bunuh untuk keselamatan Gusti seperti tiga bulan lalu. Gusti duduk di sini dan titiyang di sana di bawah pohon sawo. Tiba-tiba Gusti Biang berteriak “ULAR”. Sekejab mata ular itu telah menjadi delapan potong, ya tidak?

GUSTI BIANG
Ular ...?

WAYAN
Jangan takut. Ular kelihatannya saja berbahaya, tapi sebenarnya binatang yang paling pemalu dan lucu. Titiyang sendiri sering menyimpan ular sawah dalam saku untuk dibelai pada waktu senggang, ...Oh mana ya? Ular sawah tak mengandung bisa, Gusti jangan takut ...

(Merogoh kantongnya)

Ah, ini dia.

GUSTI BIANG
Ulaaaarrrrr.

GUSTI BIANG LARI, WAYAN MENGGELENG-GELENGKAN KEPALA MENDENGAR JANDA BANGSAWAN ITU MEMAKI-MAKI. MALAM BERTAMBAH LARUT





BABAK II

HALAMAN RUMAH MALAM. WAYAN SEDANG MENGENANG MASA-MASA MUDANYA.

Adegan I

WAYAN MENEMBANG PELAN-PELAN. TIBA-TIBA MELIHAT SOSOK TUBUH, LALU MENGHAMPIRI.

WAYAN
Mau ke mana Nyoman?

NYOMAN
Pulang ke desa.

WAYAN
Malam-malam begini?

NYOMAN
Apa salahnya?

WAYAN
Kau akan kemalaman di jalan.

NYOMAN
Aku tidak takut.

WAYAN
Banyak orang jahat sekarang.

NYOMAN
Biar saja, daripada saya sakit tinggal di sini.

WAYAN
Besok sajalah pagi-pagi, bape akan mengantarmu dengan
bus. Oh ya, kau belum dapat ijinkan?

NYOMAN
Biar.

WAYAN
Kapan kau akan balik? Kenapa tergesa-gesa? Bape tidak marah Nyoman. Bape bersumpah lebih baik mati dimakan leak daripada memukul engkau. Kenapa tiba-tiba saja pulang?

NYOMAN
Saya dipukul, saya diusir, buat apa tinggal di sini kalau tidak disukai.

WAYAN
Nyoman. Nyoman sudah biasa tinggal di sini, kau tak akan betah tinggal di sana. Nanti kamu akan rusak di sana.

NYOMAN
Tapi di sana orangnya baik-baik. Saya tidak pernah dipukul, saya lebih senang tinggal di situ, biar cuma makan batu.

WAYAN
Daripada makan batu lebih baik tinggal di sini, makan minum cukup, ada radio, bisa nonton film India.

NYOMAN
Tapi kalau tertekan seperti binatang? Dimarahi, dihina, dipukul seperti anak kecil!

WAYAN
Tapi NYOMAN harus mengerti, kita berhutang budi pada Gusti Biang.

NYOMAN (Pelan-pelan)
Memang, saya banyak berhutang budi, dikasih makan, disekolahkan, dibelikan baju, dimasukkan kursus modes, tapi kalau tiap hari dijadikan bal-balan, disalah-salahkan terus? Sungguh mati kalau tidak dikuat-kuatkan, kalau tidak ingat pesan tu Ngurah, sudah dari dulu-dulu sebetulnya.

WAYAN
Aduh, apa nanti yang mesti bape katakan kalau dia menanyakan .... ”Di mana Nyoman Bape?” Nah, apa yang akan Bape jawab?

NYOMAN
Ide sudah lupa sama icang Bape, di sana banyak bintang-bintang pilem, pasti dia sudah lupa. Nulis surat aja tidak.

WAYAN
Tidak, dia tidak begitu?

NYOMAN
Siapa bilang begitu?

WAYAN
Aku tidak bilang. Ha .. ha .. pasti dia tidak akan begitu. Kalau sampai begitu, aku yang tanggung jawab. Makanya jangan pulang, sini barangnya..

NYOMAN
Akan saya tunggu di desa saja.

WAYAN
Sudahlah, dia cuma orang tua bangka. Umurnya hampir tujuh puluh tahun. Kenapa Nyoman pusing benar kepadanya?




Adegan II

SUARA GUSTI BIANG MENCARI NYOMAN, GUSTI BIANG MUNCUL DAN NYOMAN MENGHAMPIRI WAYAN.

NYOMAN
Saya pergi Bape, tidak bisa tahan lagi, saya sudah bosan.

GUSTI BIANG
Jangan biarkan dia membawa bungkusan itu! Tahan dia Wayan.

WAYAN
Tentu Gusti Biang.

NYOMAN
Baik, titiyang akan pergi.

GUSTI BIANG
Suruh dia pergi goblok, jangan biarkan dia mencuri bungkusan itu. Itu bukan kepunyaannya.

WAYAN
Tapi itu pakaiannya sendiri Gusti.

GUSTI BIANG
Dulu ketika kubawa kemari, dia cuma pakai kain rombeng. Ambil segera Wayan! Sakit gede.

NYOMAN
Baik, ambil saja Bape Wayan.

GUSTI BIANG
Nanti dulu.

NYOMAN
Apa lagi yang Gusti kehendaki?

GUSTI BIANG
Wayan!

WAYAN
Ya, ada apa Gusti?

GUSTI BIANG
Simpan bugkusan itu, jangan goblok kamu, lalu ambil buku besar, catatan keluar masuk, dari dalam lemari, ini kuncinya. Cepat!

WAYAN
Ah, catatan keluar masuk? Baru sekali ini titiyang mendengarnya .....

GUSTI BIANG
Ambil cepat goblok.

WAYAN
Tapi buku besar yang mana Gusti?

GUSTI BIANG
Tolol kamu ini! Buku besar di dalam lemari yang berwarna hijau.

WAYAN
Oh. Gusti Biang Ayo cepat!



Adegan III

WAYAN MASUK MEMBAWA BUNGKUSAN. GUSTI BIANG BERTOLAK PINGGANG, NYOMAN MEMPERHATIKAN DENGAN SANGAT BENCI.

GUSTI BIANG
Perempuan tak tahu balas budi. Tidak tahu berterima kasih, dikasih makan tiap hari malah durhaka. Disekolahkan malah jadi lawan. Maling, ular, mau meracun.

NYOMAN
Katakan sepuas-puasnya Gusti Biang.

GUSTI BIANG
Aku mau diracunnya, terlalu. Akan kuadukan kau kepada polisi. Gila!

NYOMAN
Gusti sendiri yang menyiksa tiyang.

GUSTI BIANG
Dasar penjilat! Kuberhentikan kau sekolah karena kau main mata dengan guru dan tukang kebun sekolah itu.

NYOMAN
Bohong! Itu hasutan anak Gusti Biang sendiri.

GUSTI BIANG
Benar!

NYOMAN
Bohong!

GUSTI BIANG
Benar, kau memang liar, genit, dan licik serta apa saja yang jelek-jelek.

NYOMAN
Baik, baik, tapi kau juga genit.

GUSTI BIANG
Apa katamu?

NYOMAN
Kau juga genit, kau ...

GUSTI BIANG
Apa katamu leak? Wayan akan memutar lehermu!

NYOMAN
Wayan akan memutar lehermu!

GUSTI BIANG
Dia akan menguncimu dalam gudang!

NYOMAN
Dia akan menguncimu dalam gudang!

GUSTI BIANG
Setan! Akan kucarikan kau polisi!

NYOMAN
Polisi itu akan membawakan Gusti ular belang.

GUSTI BIANG
Diam! Diam!

(Nyoman hendak pergi meninggalkan gusti biang, tapi gusti biang Mencegahnya)

Jangan pergi! Jangan duduk! Jangan bergerak!

NYOMAN (Berhenti lalu mendekat dan memandang Gusti Biang dengan marah)
Gusti Biang, tiyang bosan merendahkan diri, dulu tiyang menghormati Gusti karena usia Gusti lanjut. Tiyang mengikuti semua apa yang Gusti katakan, apa yang Gusti perintahkan meskipun tiyang sering tidak setuju. Tetapi Gusti sudah keterlaluan sekarang. Orang disuruh makan tanah terus-menerus, Gusti anggap tiyang tak lebih dari cacing tanah. Semutpun kalau diinjak menggigit, apalagi manusia, Gusti yang seharusnya agung, luhur, menjadi tauladan tapi seperti ...

GUSTI BIANG
Seperti apa?

NYOMAN
Orang kebanyakan saja mempunyai kasih sayang dan menghargai orang lain. Tapi Gusti, di mana letak keagungan Gusti? Cobalah Gusti berjalan di jalan raya seperti sekarang, Gusti akan ditertawakan oleh orang banyak. Sekarang orang tidak lagi diukur dari keturunan tapi kelakuan dan kepandaianlah yang menentukan. Sekarang tidak hanya bangsawan, semua orang berhak dihormati kalau baik. Begitu mestinya.

GUSTI BIANG
Begitu mestinya. Bohong! Bohong tolol!

NYOMAN
Memang tiyang tolol. Buat apa mengatakan ini semua. Gusti sudah terlalu lanjut, akan terlalu sakit untuk mengubah kebiasaan Gusti. Tapi seandainya mencoba, mencoba saja, saya akan mau di sini mengabdi untuk selamanya.

GUSTI BIANG (Meludah)
Ha.. ha .. kau tidak perlu pidato omong kosong, kau perempuan sudra. Kau akan kena tulah
karena berani menentangku, hei cepat Wayan!



Adegan IV

WAYAN MUNCUL DENGAN BUKU DITANGANNYA

GUSTI BIANG
Nah, sekarang sebelum kau pergi, kau harus melunasi hutangmu dulu.

NYOMAN
Hutang apa? Nyoman tidak pernah meminjam uang.

GUSTI BIANG
Buka bagian yang bertuliskan tinta merah, Wayan, cepat Wayan!

WAYAN (Tampak bingung membalik-balik buku)
Nanti dulu, piih. Nah ini dia.

GUSTI BIANG
Baca perlahan dengan jelas. Baca kataku!

WAYAN (Masih bingung, mendekatkan lampu)
Piih, mata tiyang kurang terang, sebentar, piih kenapa belum terang juga, kabur Gusti.

WAYAN
Gusti lupa, Wayan tak pernah belajar membaca.

GUSTI BIANG
Setan bawa kemari buku itu!

(gusti biang mengambil buku itu dan memberi isyarat kepada wayan agar mengambil kaca mata dan lampu teplok. wayan segera melakukannya dan mengangkat lampu teplok tinggi-tinggi)

Nah, di sini dicatat semua perongkosan yang kau habiskan selama kau dipelihara di sini. Nyoman Niti, asal dari desa Maliling, umur lebih kurang delapan belas tahun. Kulit kuning dan rambut panjang. Badan biasa, lebih tinggi sedikit dari Gusti Biang. Mulai dari tahun lima puluh empat, lima pasang baju, sebuah boneka, sebuah bola bekel, satu biji kelerang, satu tusuk konde, dan ...

WAYAN (Memotong)
Benar, piih, semua Gusti catat.

NYOMAN
Gusti Biang ....

GUSTI BIANG
Tahun lima puluh lima, sekarang! Dua baju rok, batu tulis, kebaya, pinsil, satu batang jarum, sepasang teklek, tikar dan seekor anak kucing belang.

WAYAN
Ah, benar Gusti Biang, titiyang masih ingat sekali ketika pertama kali Nyoman mengenakan kain kebaya. Piih, semuanya itu sudah lewat.

GUSTI BIANG
Selama dua tahun ini sudah berjumlah dua juta rupiah ... kemudian sekarang tahun lima puluh enam! Tidak ada, sebab aku lupa mencatatnya. Tahun lima puluh tujuh, aku juga lupa mencatatnya. Tetapi di sini yang kuingat, ia memecahkan sebuah cangkir dan kaca mataku. Lalu tahun lima puluh delapan! Sepasang sandal, sekotak bedak, kaca jendela dipecahkannya, dua buah gelas tiba-tiba menghilang, sekilo daging dimakan si belang karena
lupa mengunci dapur. Tiga buah sisir, tiga butir kelapa hilang. Seekor ayamku yang paling baik disembelihnya, sepuluh anak ayam tiba-tiba mati, yang bulu putih, hitam, coklat, kuning, dan berumbun. Lalu ...

WAYAN
Tapi semua itu tak bisa dipertanggungjawabkan kepada Nyoman, Gusti, itu adalah kesalahan induknya yang tidak berhati-hati menjaga anaknya. Bukan kesalahan Nyoman.

GUSTI BIANG
Diam! Diam kataku! Ini adalah urusanku, nanti kau akan mendapat bagianmu sendiri. Nah, ongkos hidupmu hampir delapan belas tahun di sini, benar-benar sudah kelewat batas. Coba lihat di sini, tahun enam puluh misalnya .. memecahkan kaca jendela, korupsi sabun, menghanguskan nasi, korupsi uang belanja dapur dan pekerjaan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Beberapa kali aku memanggil mantri untuk mengobatinya,
membeli obat waktu ia sakit. Banyak, banyak sekali, itu belum ditambah yang lain-lain yang aku lupa catat. Belum lagi ditambah bunganya ...

WAYAN
Piih, ini perhitungan gila!

GUSTI BIANG (Berkata sungguh-sungguh)
Semua telah aku catat bersama tanggal dan hari kejadiannya. Sekarang kau boleh pergi. Kapan-kapan aku dan Wayan akan datang ke tempatmu dengan seorang polisi dan juru
sita sebab kau pasti tidak bisa membayar. Kau cuma punya gubuk yang buruk di desa dan tak pernah makan nasi. Rentenya sepuluh persen sebulan. Nah, bawa buku ini lagi ke dalam Wayan. Simpan baik-baik untuk dipergunakan kelak. Lalu usir dia! Apa yang kau tunggu lagi? Ambil buku ini, dan usir dia!

WAYAN TAK MENERIMA, IA MENDEKAT KE MEJA DAN MELETAKKAN LAMPU TEPLOK KEMUDIAN BERJONGKOK

WAYAN
Titiyang tak kuasa. Badan titiyang lemas. Gusti telah, mencatat hutang-hutang titiyang pula. Berapa semuanya Gusti?

GUSTI BIANG
Sudah tak terhitung lagi, hampir dua puluh juta!

WAYAN
Piih, titiyang punya nyawapun tak ada harganya dua puluh juta, Gusti, titiyang benar-benar ingin menangis sekarang.

GUSTI BIANG
Usir dia sekarang juga, jangan ngarje roras di sini.

(Melihat Wayan masih jongkok)

Apa? Baik aku sendiri yang mengusirnya kalau kau tak mau.

NYOMAN
Tidak usah disuruh Gusti, tiyang memang mau pergi sekarang. Tetapi sebelum titiyang pergi, tiyang hitung berapa hutang Gusti kepada tiyang.

GUSTI BIANG
Oh, aku tak pernah pinjam uang sepanjang hidupku..

NYOMAN
Lebih dari sepuluh tahun tiyang menghamba di sini. Bekerja keras dengan tidak menerima gaji. Kalau tidak ada Bape Wayan sudah lama tiyang pergi dari sini. Selama ini tiyang telah membiarkan diri diinjak-injak, disakiti, dijadikan bulan-bulanan seperti keranjang sampah. Tidak perlu rentenya, pokoknya saja. Hutang Gusti Biang kepada tiyang, sepuluh juta kali sepuluh tahun. Belum lagi sakit hati tiyang karena fitnahan dan hinaan Gusti. Pokoknya melebih harta benda yang masih Gusti miliki sekarang. Tapi ambillah semua itu sebagai tanda bakti tiyang yang terakhir.

GUSTI BIANG
Pergiiii! Pergiiii!

NYOMAN MENGHAPUS AIRMATA DAN BERLARI KE LUAR PINTU! JANDA BANGSAWAN ITU MENGAWASINYA DENGAN MENGANGKAT LAMPU TEPLOK


Adegan V

WAYAN YANG DUDUK MEMBELAKANGI GUSTI BIANG TIDAK TAHU KALAU NYOMAN TELAH PERGI

WAYAN (Bergumam)
Satu milyar kali sepuluh tahun? Aneh-aneh saja pembukuan jaman sekarang!

GUSTI BIANG (Mendekati Wayan)
Jangan cerewet Wayan. Awasi dia supaya jangan kembali kemari, kau dengar?

WAYAN
Sabar Gusti, kenapa Gusti gelap mata? Gusti telah menghantam semua orang dengan hutang. Satu milyar dan ..

(Menoleh ke belakang dan heran)

Piih, di mana Nyoman, Gusti?

GUSTI BIANG
Dia sudah pergi, buta. Dia tidak akan mengganggu
kita lagi ....

WAYAN
Maksud Gusti, dia sudah pergi dan titiyang tidak melihatnya?

GUSTI BIANG
Ya, kita sudah terlepas dari bahaya ....

WAYAN
Terlepas? Justru bahaya itu sekaranglah baru mulai Gusti.

GUSTI BIANG (Tertawa geli)
Tenang Wayan. Jangan pikirkan yang dua puluh juta itu, aku cuma pura-pura.

WAYAN (Beringas)
Titiyang tidak memikirkan titiyang punya diri, titiyang memikirkan putra Gusti Biang.

GUSTI BIANG
Bagus Wayan. Ah, mana kaca mata itu. Segera kita akan baca berita yang dikirimnya.

WAYAN
Dia akan mengumpat titiyang dan akan mengalungkan ular karena keteledoran titiyang. Ke
mana tadi perginya Gusti? Titiyang akan mengejarnya.

GUSTI BIANG
Apa maksudmu Wayan?

WAYAN
Buta! Tuli! Pikun! Piih! Dunia! Dunia ...

GUSTI BIANG (Panik)
Katakan, kenapa dia Wayan? Ya katakan, katakan apa maksudmu.

WAYAN (Menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kesal)
Nyoman niti, gusti biang.

GUSTI BIANG
Ya, Nyoman begundal itu, kenapa dia?

WAYAN
Gusti, Nyoman adalah tunangan Ngurah, calon menantu Gusti Biang sendiri, berani sumpah, Nyoman adalah tunangan Ngurah. Ratu Ngurah sendiri yang mengatakannya. “Aku akan mengawini Nyoman Bape” katanya. “Biar hanya orang desa, pendidikannya rendah tapi hatinya baik, daripada ...” biar dimakan leak. Demi apa saja!

GUSTI BIANG
Tidak, semua itu hasutan. Anakku tidak akan kuperkenankan kawin dengan bekas pelayannya. Dan, kami keturunan ksatria kenceng. Keturunan raja-raja Bali yang tak boleh dicemarkan oleh darah sudra.

WAYAN
Tapi kalau Ratu Ngurah menghendaki, bagaimana?

GUSTI BIANG
Bisa saja dipelihara sebagai selir. Suamiku dulu memelihara lima belas orang selir. Kalau tidak, jangan mendekati anakku.

WAYAN
Tapi mereka saling mencintai!

GUSTI BIANG
Cinta? Apa itu cinta, itu hanya ada dalam kidung-kidung Smarandanamu.

WAYAN
Kalau begitu alamat akan perang.

GUSTI BIANG
Perang, apa maksudmu? Perang sudah selesai, tidak ada perang lagi!

WAYAN
Wayan tidak mau kehilangan tongkat dua kali.

GUSTI BIANG
Ngurah tidak akan sudi menjamah perempuan dekil itu.

WAYAN
Ratu Ngurah benar-benar mencintai Nyoman, Gusti Biang.

GUSTI BIANG
Bohong!

WAYAN
Baik, bacalah surat itu kalau tidak percaya!

GUSTI BIANG
Surat? Ini surat Ngurah, aku terima tadi.

WAYAN
Sudah lima hari yang lalu!

GUSTI BIANG
Tapi! Kau keterlaluan!

WAYAN
Coba baca!

(GUSTI BIANG MEMBACA DEKAT LAMPU TEPLOK DAN WAYAN MENDENGARKAN DENGAN TENANG)

GUSTI BIANG
Swatiastu, ibunda tercinta .... Kalau aku bilang tadi, kamu bilang sudah lima hari, apa saja yang aku katakan kamu lawan! Dewa Ratu, dengarlah Wayan. Betapa pinternya ia menghormati

(Membaca lagi)

dengan singkat ananda kabarkan bahwa ananda segera pulang. Ananda telah merencanakan
berunding dengan ibu. Sudah masanya sekarang ananda menjelaskan. Meskipun ananda belum menyelesaikan pelajaran, bahkan mungkin ananda akan berhenti sekolah saja, sebab tak ada lagi gunanya. Ananda hendak menjelaskan kepada ibu bahwa ananda tidak bisa lagi berpisah lebih lama. Rahasia ini ananda simpan sejak lama. Supaya ibu tidak kaget nanti, akan saya terangkan bahwa ananda bermaksud, ananda bermaksud ... ananda
bermaksud

MENGULANG SAMBIL MENDEKATKAN LAMPU TEPLOK

WAYAN
Bermaksud apa?

GUSTI BIANG
Bermaksud, bermaksud ...

WAYAN
Ya bermaksud apa? Baca terusnya Gusti Biang.

GUSTI BIANG (Tiba-tiba surat itu jatuh dari pegangannya)
Jadi, dia benar-benar mau kawin dengan perempuan itu?

WAYAN
Ya!

GUSTI BIANG
Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Aku melarang keras, Ngurah harus kawin dengan orang patut-patut. Sudah kujodohkan sejak kecil dia dengan Sagung Rai. Sudah kurundingkan pula dengan keluarganya di sana, kapan hari baik untuk mengawinkannya. Dia tidak boleh mendurhakai orang tua seperti itu. Apapun yang terjadi dia harus terus menghargai
martabat yang diturunkan oleh leluhur-leluhur di puri ini. Tidak sembarang orang dapat dilahirkan sebagai bangsawan. Kita harus benar-benar menjaga martabat ini. Oh, aku akan malu sekali, kalau dia mengotori nama baikku. Lebih baik aku mati menggantung diri daripada menahan malu seperti ini. Apa nanti kata Sagung Rai? Apa nanti kata keluarganya kepadaku? Tidak, tidak!

(Wanita Itu Menjerit Dan Mendekati Wayan Dengan Beringas)

Kau, kau biang keladi semua ini. Kau yang menghasut supaya mereka bertunangan. Kau sakit gede!

WAYAN
Tidak, titiyang tidak ikut campur Gusti Biang.

GUSTI BIANG
Ya, kaulah hantu yang memburu hidupku. Aku masih ingat kejadian jaman dulu. Waktu aku masih muda dan kau memburuku dengan mata buayamu itu, kau memang licik! Dasar manusia sudra! Kau menghasut anakku supaya kawin dengan Nyoman karena kau sendiri gagal!

WAYAN
Siapa bilang tiyang gagal!

GUSTI BIANG
Suamiku yang telah menggagalkan kau.

WAYAN
Suami GUSTI BIANG seorang pembohong!

GUSTI BIANG
Bedebah! Berani kau menghina pahlawan di puri
ini?

WAYAN (Tertawa pehit. Wajahnya menjadi keras)
Pahlawan? Pahlawan apa? Siapa yang mengatakan dia pahlawan?

GUSTI BIANG
Semua mengatakan dia pahlawan! Dia telah berjuang untuk kemerdekaan dan mati ditembak Nica!

WAYAN
Itu bohong! Orang-orang seperti dia yang menggabungkan diri dalam pasukan Gajah Merah memang pantas disebut pahlawan, Pahlawan penjajah! Orang-orang seperti dia telah menikam perjuangan dari belakang.

GUSTI BIANG
Pergi! Pergi bangsat! Angkat barang-barangmu. Tinggalkan rumah suamiku ini. Aku tak sudi memandang mukamu!

MELEMPARI WAJAH WAYAN DENGAN BOTOL

WAYAN
Baik aku akan pergi sekarang. Aku akan menyusul Nyoman. Aku juga bosan di sini meladeni tingkah lakumu. Tapi sebelum aku pergi akan aku jelaskan tentang pahlawan gadungan itu. Gusti harus tahu ....

GUSTI BIANG (Memotong)
Tidak! Aku tidak mau mendengar. Kau telah menghina suamiku. Ini tidak bisa dimaafkan
lagi. Pergi! Pergi! Sebelum aku mengutukmu, pergi! Rumah ini kepunyaanku, tinggalkan gudangku itu, pergi bedebah!

WAYAN
Benar?

GUSTI BIANG
Pergi leak! Jangan kau menggangguku lagi. Pergi!

WAYAN
Baik, tiyang akan pergi Gusti Biang.

WAYAN MENINGGALKAN RUANGAN, GUSTI BIANG MELONTARKAN KUTUKAN

GUSTI BIANG
Tinggalkan gudang itu sekarang juga. Enyah dari rumah suamiku.

(Agak rendah, jongkok)

dia sudah menjadi setan, suamiku dihinanya, anakku dihasutnya. Terkutuk, terkutuk bedebah itu. Apa yang harus aku katakan kepada Sagung Rai kalau Ngurah kawin dengan perempuan sudra itu? Bedebah, terkutuk! Dewa Ratu, malangnya nasib orang tua ini, semua mendustaiku, semua orang menjadi binatang.

MEMANDANG SEKELILING LALU DUDUK DI KURSI. UNTUK BEBERAPA SAAT IA TERTIDUR DI KURSI ITU



BABAK III
TEMPAT TIDUR GUSTI BIANG

Adegan I

GUSTI BIANG
tertidur ketika Ngurah masuk.

NGURAH
Ibu ...

GUSTI BIANG
Siapa?

NGURAH
Tiyang Ngurah, Tiyang datang Ibu ....

GUSTI BIANG
Ngurah?

NGURAH
Yah! Ngurah, bangun ibu.

GUSTI BIANG (Mengusap matanya tak percaya lalu terbelalak sambil tersenyum)
Ngurah .. Ngurah, kenapa kau baru pulang, kau sudah lupa pada ibumu. Kurang
ajar, aku telah dihina, direndahkan, leak. Kalau kau ada di rumah, mereka tidak akan berani. Semua orang sudah pergi, tak ada yang merawatku. Kamu jadi kurus hitam, seperti kuli.

NGURAH
Ya, saya bekerja di situ.

GUSTI BIANG
Bekerja? Katanya belajar kenapa bekerja?

NGURAH
Ya, bekerja sambil belajar.

GUSTI BIANG
Karena itu kamu gagal.

NGURAH
Ibu, banyak sekali yang saya pikirkan.

GUSTI BIANG
Tapi kau tak pernah memikirkan ibumu.

NGURAH
Justru karena tiyang memikirkan ibu jadi begini.

GUSTI BIANG
Kau memikirkan ibumu kalau kau perlu uang. Itu
barang-barangmu?

NGURAH
Ya.

GUSTI BIANG
Itu koper yang ibu belikan dulu?

NGURAH
Ya, betul ibu.

GUSTI BIANG
Koper itu bisa kau jaga, tapi tujuanmu ke sana tidak. Mana barang-barangmu yang lain?

NGURAH
Masih ada di pondokan.

GUSTI BIANG
Mengapa kau tinggalkan di situ, apa kau akan kembali ke situ?

NGURAH
Saya tidak tahu. Semua tergantung ...

GUSTI BIANG
Tergantung apa?

NGURAH
Entahlah, keadaan tentunya saja.

GUSTI BIANG
Ibu kira kau sudah jadi orang, ternyata? Mana cincinmu?

NGURAH
Cincin?

GUSTI BIANG
Waktu berangkat dulu kau ibu kasih tiga buah cincin peninggalan ayahmu, mana sekarang?

NGURAH
Masih ada....

GUSTI BIANG
Ada di tukang gadai? Aku sudah tahu kelakuan anak-anak yang mengaku-ngaku sekolah tapi nyatanya hanya nonton bioskop. Aku sudah dapat firasat buruk, kalau barang peninggalan leluhurmu sudah kau perlakukan seperti itu. Jangan-jangan kau akan ikut merendahkan dan menghina ibumu ini. Buat apa kau pergi jauh-jauh kalau untuk bertambah
bodoh, untung kau tidak membawa perempuan dari sana, seperti Ngurah Purname di puri Anom. Aku bisa mati berdiri. Kalau cuma perawan, perawan macam apapun di sini ada, tinggal pilih saja. Tapi tidak ada yang lebih cantik, lebih halus, lebih rajin dari Sagung Rai di seluruh puri-puri di Tabanan ini. Sekarang dia sudah besar dan cantik sekali. Besok kamu harus ke sana membawa oleh-oleh.

NGURAH
Ibu, ibu bicara apa itu?

GUSTI BIANG
Kau sudah besar dan pantas kau memberikan aku cucu, sebelum kelewatan. Hanya itu yang aku tunggu sekarang.

NGURAH
Nanti saja kita bicarakan itu.

GUSTI BIANG
Tidak. Sekarang! Apa oleh-olehmu untuk Sagung Rai? Ha..ha kamu juga tidak membawa apa-apa buat ibu bukan?

NGURAH
Maaf ibu.

GUSTI BIANG
Tapi kamu pasti tidak lupa membelikan begundal itu klompen, baju brokkat, kaca mata, de colognet, gincu, tas, ha! Aku minta balsem cap macan saja tidak digubris. Perempuan kurang ajar!

NGURAH
Perempuan? Perempuan siapa ibu?

GUSTI BIANG
Putar-putar! Aku sudah menerima suratmu.

NGURAH
Ya, nanti saja kita bicarakan.

GUSTI BIANG
Kau sendiri yang menulis kan?

NGURAH
Ya.

GUSTI BIANG
Kau ingat apa yang kau tulis? Benar semua itu?

NGURAH
Ya, nanti, nanti kita bicarakan.

GUSTI BIANG
Nanti atau sekarang sama saja, benar Ngurah kau yang menuliskan surat itu?

NGURAH
Sebentar ibu, tiyang akan jelaskan.

GUSTI BIANG
Ngurah kau anak durhaka!

NGURAH
Ibu, tenanglah ibu.

GUSTI BIANG
Tidak! Kalau masih berniat kawin dengan dia, jangan coba-coba memasuki rumah ini, dan kalau kawin juga dengan dia, jangan lagi menyebut ibu kepadaku.

NGURAH
Tenang, mari kita bicarakan nanti baik-baik, tiyang sudah lelah. Semuanya nanti kita bicarakan.

GUSTI BIANG
Ibu pun sangat lelah. Tak ada waktu lagi berpanjang-panjang. Sebelum ini berakar menjadi sakit hati, kita harus meyelesaikannya, sekarang juga harus selesai!

NGURAH
Begitukah keputusan ibu?

GUSTI BIANG
Ya.

NGURAH
Tiyang ingin istirahat dulu.

GUSTI BIANG
Kau boleh berbuat sesukamu kalau semuanya sudah beres. Ini adalah rumahku dan kau adalah ahli waris satu-satunya.

NGURAH
Baiklah, kalau itu yang ibu kehendaki.

HENDAK DUDUK

GUSTI BIANG
Kau tak perlu duduk! Ibu sendiri tak akan duduk sebelum semuanya selesai dengan baik. Kita akan selesaikan sekarang. Jadi kau bermaksud kawin dengan penjeroan itu?

NGURAH
Begini ibu ...

GUSTI BIANG
Jawab saja dengan singkat. Benar kau mau mengawininya? Jawab Ngurah. Jawab!

NGURAH
Ya, titiyang akan mengawininya.

GUSTI BIANG
Ngurah! Kau sudah diguna-gunanya.

NGURAH
Kami saling mencintai ibu.

GUSTI BIANG
Cinta? Ibu dan ayahmu kawin tanpa cinta. Apa itu cinta? Yang ada hanyalah kewajiban menghormati leluhur yang telah menurunkanmu, menurunkan kita semua di sini. Kau tak boleh kawin dengan dia, betapapun kau menghendakinya. Aku telah menyediakan orang yang patut untukmu. Jangan membuatku malu. Ibu telah menjodohkan kau sejak kecil dengan Sagung Rai.

NGURAH
Sagung Rai? Tidak ibu.

GUSTI BIANG
Apa kurangnya Sagung Rai, dibanding dengan perempuan desa itu.

NGURAH
Tidak, tiyang tidak mau kawin dengan dia.

GUSTI BIANG
Kenapa tidak? Ibu dan keluarganya telah selesai merundingkan semua. Dia sudah tamat SMP. Kelakuannya halus dan rajin.

NGURAH
Ibu, soalnya bukan itu, ibu harus mengerti, sekarang orang ingin memilih sendiri teman hidup.

GUSTI BIANG
Kalau ingin kau pelihara perempuan sudra itu karena nafsumu, terserahlah. Boleh kau pelihara sebagai selir. Kau boleh berbuat sesukamu, sebab aku telah memeliharanya sejak kecil. Tetapi untuk mengawininya dengan upacara itu tidak bisa.

NGURAH
Tidak?

GUSTI BIANG
Tidak! Aku menentangnya.

NGURAH
Kenapa tidak?

GUSTI BIANG
Dia tidak pantas menjadi istrimu! Dia tidak pantas menjadi menantuku!

NGURAH
Kenapa tidak ibu? Kenapa? Siapa yang menjadikan Sagung Rai lebih pantas dari Nyoman untuk menjadi istri? Karena derajatnya? Tiyang tidak pernah merasa derajat tiyang lebih tinggi dari orang lain. Kalau toh tiyang dilahirkan di purian, itu justru menyebabkan tiyang harus berhati-hati. Harus pintar berkelakuan baik agar bisa jadi teladan orang, yang
lain omong kosong semua!

(Gusti Biang Terbelalak Dan Mendekat)

Tiyang sebenarnya pulang meminta restu dari ibu. Tapi karena ibu menolaknya karena sola kasta, alasan yang tidak sesuai lagi. Tiyang akan menerima akibatnya

(Gusti Biang Menangis, Ngurah Bergulat Dengan Batinnya)

Tiyang akan kawin dengan Nyoman. Sekarang ini soal kebangsawanan jangan di besar-besarkan lagi. Ibu harus menyesuaikan diri, kalau tidak ibu akan ditertawakan orang. Ibu ...

GUSTI BIANG
Tinggalkan aku anak durhaka! Pergilah memeluk kaki perempuan itu! Kau bukan anakku lagi!
Leluhurmu akan mengutukmu,kau akan ketulahan.

NGURAH (Memegang kepala)
Ini tidak bisa diselesaikan begini saja. Panggillah Nyoman dan Bape Wayan,
kita bicarakan tenang-tenang.

GUSTI BIANG
Tidak! Sudah kuusir leak-leak itu! Aku sudah dihina, diinjak-injak!

NGURAH
Diusir? Nyoman, ibu usir?

KELUAR

GUSTI BIANG
Ya! Leak itu tidak boleh masuk rumahku ini. Setan tua itu juga! Biar mati dua-duanya sekarang! Kalau kau mau ikut pergi terserah. Aku akan mempertahankan kehormatanku. Kehormatan suamiku, kehormatan Sagung Rai, kehormatan leluhur-leluhur di puri ini.


BABAK IV
DEPAN RUMAH MALAM

Adegan I

WAYAN MUNCUL MEMBAWA KOPOR SENG DAN SENJATA. LALU MELIHAT KE DALAM RUMAH NGURAH MUNCUL DARI SAMPING WAYAN

WAYAN
Tu Ngurah ..

NGURAH
Bape Wayan!

WAYAN
Tepat sekali ratu Ngurah datang.

NGURAH
Apa kabar Bape?

WAYAN
Buruk tu Ngurah, buruk sekali.

NGURAH
Bape sehat-sehat saja?

WAYAN
Marahlah, umpatlah si tua yang pikun ini.

NGURAH
Kenapa?

WAYAN
Nyoman telah pergi.

NGURAH
Ke mana?

WAYAN
Baru saja tiyang hendak menyusulnya sekarang.

NGURAH
Baru saja?

WAYAN
Ya, baru saja, pasti belum jauh.

NGURAH
Kenapa dia pergi Bape?

WAYAN
Tu Ngurah tahu sendiri, sudah lama Gusti Biang tidak cocok dengan Nyoman. Titiyang tidak bisa mendamaikannya. Nyoman sudah sering ingin minggat, tapi tadi, tiba-tiba saja dia pergi. Salah titiyang juga tu Ngurah.

NGURAH
Sudahlah biar dulu begitu. Semuanya akan selesai nanti. Saya juga telah bertengkar dengan ibu. Duduklah Bape, bape jangan ikut pergi. Duduklah bape. Pasti ibu yang salah. Bape sudah bertahun-tahun di sini, tak baik kalau tiba-tiba pergi, duduklah bape ...

Adegan II
GUSTI BIANG MUNCUL

GUSTI BIANG
Tinggalkan rumahku sekarang ini juga.

WAYAN
Tiyang sudah berusaha baik-baik tapi tidak berhasil. Bape pergi sekarang

KEPADA NGURAH

GUSTI BIANG
Pergi Leak, jangan mengotori rumah suamiku.

WAYAN HENDAK PERGI, NGURAH MENAHANNYA

NGURAH
Bape! Jangan pergi! Ingat saya Bape. Jadi Bape akan tinggalkan?

GUSTI BIANG
Dia hantu! Tinggalkan rumah ini cepat!

WAYAN
Ya, tiyang hantu, seperempat abad tiyang mengabdi di rumah ini karena cinta. Sekarang keadaan tambah buruk. Bape pergi tu Ngurah

MENGANGKAT KOPER HENDAK PERGI

GUSTI BIANG
Tunggu dulu! Apa yang kau bawa itu? Kau mencuri barang-barangku. Bedil? Bedil siapa itu?

WAYAN
Pak Rajawali punya bedil waktu revolusi. Bedil ini sudah banyak membunuh pengkhianat.

GUSTI BIANG
Bedil itu kepunyaanku!

WAYAN
Kepunyaan Gusti Biang?

(Kepada Ngurah)

Ini bedil Bape ...

GUSTI BIANG
Ngurah! Ambil bedil itu! Ia mencuri bedil yang kusimpan di kamar ayahmu.

WAYAN
Ini bedil pak Rajawali.

GUSTI BIANG
Setan, anakku kamu hasut. Bedil peninggalan suamiku kau curi! Ambil bedil itu Ngurah! Bedil itu wasiat ayahmu.

NGURAH (Tertarik kepada bentuk bedil itu)
Coba lihat, aneh sekali bentuknya.

WAYAN
Bedil ini kepunyaan tiyang.

NGURAH
Benar? Coba saya ingin lihat.

GUSTI BIANG
Rebut saja! Jangan percaya dia lagi!

NGURAH
Ibu, di mana peluru yang menewaskan ayah?

MENGAMBIL BEDIL DARI TANGAN WAYAN

GUSTI BIANG
Tentu aku selalu membawanya sebagai jimat.

NGURAH
Coba lihat

(Menerima peluru)

Peluru ini yang telah membunuh ayah. Dokter Belanda itu membedah mayat ayah dan menyerahkan peluru ini kepada ibu. Ibu menyimpannya sebagai kenang-kenangan. Kemudian atas permintaan ibu, dokter itu juga memberikan senjata yang dipergunakan untuk menembakkan peluru ini.

GUSTI BIANG
Benar. Senjata laknat ini yang telah membunuh suamiku. Nica jahanam.

WAYAN
Nica tidak mempunyai bedil macam ini.

GUSTI BIANG
Tidak! Usir dia Ngurah! Usir cepat!

.
WAYAN
Bedil macam ini hanya dipunyai gerilya.

GUSTI BIANG
Bedebah! Tidak! Jangan biarkan dia bicara, usir!

WAYAN (Tertawa)
Semua pahlawan mati tertembak Nica, tetapi dia tidak. I Gusti Ngurah Ketut Mantri bukan
seorang pahlawan, dia ditembak mati gerilya sebagai penghianat.

GUSTI BIANG
Dengar, dia menghina ayahmu! Usir dia! Tembak dia sampai mati!

NGURAH (Memegang ibunya yang hendak memukul)
Tenang ibu!

GUSTI BIANG Coba katakan lagi suamiku penghianat! Coba!
Kupukul kau bedebah.

WAYAN
Dia memang penghianat.

GUSTI BIANG
Leak! Terkutuk kau!

NGURAH
Sabar ibu!

MENDUDUKKAN IBUNYA

GUSTI BIANG
Kenapa kau diam saja anak durhaka! Tembak jahanam itu! Dia menghina suamiku.

NGURAH
Baik ibu, tapi tenang, nanti tetangga-tetangga bangun.

GUSTI BIANG
Biar, biar. Usir dia sekarang

BATUK KERAS

NGURAH
Bape bilang ayah saya penghianat? Kenapa Bape

WAYAN membeo kata orang yang iri hati? Bape sudah bertahun-tahun di sini mengapa mau merusak nama baik keluarga kami?

SALING BERPANDANG-PANDANGAN

WAYAN (Dengan tegas)
Tiyang tahu semuanya, tu Ngurah. Sebab tiyang yang telah mendampinginya setiap
saat dulu. Sejak kecil tiyang sepermainan dengan dia, seperti tu Ngurah dengan Nyoman. Tiyang tidak buta huruf seperti disangkanya. Tiyang bisa membaca dokumen-dokumen dan surat-surat rahasia yang ada di meja kerjanya. Siapa yang membocorkan gerakan Ciung Wanara di Marga dulu? Nica-nica itu mengepung Ciung Wanara yang dipimpin oleh pak Rai, menghujani dengan peluru dari berbagai penjuru, bahkan dibom dari udara sehingga kawan-kawan semua gugur. Siapa yang bertanggung jawab atas kematian sembilan puluh
enam kawan-kawan yang berjuang habis-habisan itu? Dalam perang puputan itu kita kehilangan Kapten Sugianyar, kawan-kawan tiyang yang paling baik, bahkan kehilangan pak Rai sendiri. Dialah yang telah berkhianat, dialah yang telah melaporkan gerakan itu semua kepada Nica.

GUSTI BIANG
Tidak! Itu tidak benar! Suamiku seorang pahlawan Ngurah usir dia.

NGURAH (Menghampiri Wayan)
Saya tidak percaya!

GUSTI BIANG
Jangan percaya! Leak!

NGURAH
Bape menghina keluarga saya.

WAYAN
Bukan menghina tu Ngurah. Begitulah keadaannya. Desa Marga menjadi saksi semua itu, hanya beliau dilahirkan sebagai putra Bangsawan yang berpengaruh serta dihormati karena jasa-jasa leluhur, dosa beliau kepada pak Rai terhadap semua korban puputan itu seperti dilupakan. Tetapi tiyang sendiri tidak pernah melupakannya. Bukan hanya seorang, banyak penghianat-penghianat di bumi ini dianggap orang sebagai pahlawan sedangkan yang benar-benar berjasa dilupakan orang.

NGURAH
Saya tak senang dengan cara-cara bape ini, diam-diam menjadi musuh dalam selimut. Susah payah saya memperbaiki nama baik keluarga. Sekarang bape hendak menodainya. Mencari-cari kesalahan memang gampang bape. Bape lupa, besar jasa ayah saya kepada perjuangan. Sayang beliau sudah meninggal. Kalau tidak, Ia akan menjelaskannya. Tarik kata-kata bape.

WAYAN HANYA TERSENYUM SINIS

NGURAH
Pergi!

WAYAN (Memalingkan muka hendak pergi tapi tiba-tiba tertegun dan berbalik)
Berikan bedil itu Tu Ngurah.

GUSTI BIANG
Tidak, itu bedilku, kau telah mencurinya.

NGURAH
Coba buktikan, buktikan kalau ayah saya seorang penghianat. Berikan bukti yang nyata, jangan hanya prasangka!

WAYAN (Menggeleng)
Berikan bedil itu Tu Ngurah!

GUSTI BIANG
Ayahmu ditembak Nica!

NGURAH (Membentak)
Buktikan!

WAYAN
Buat apa?

NGURAH
Buktikan!

WAYAN
Tiyang selalu mendampinginya. Tiyanglah yang selalu dekat dengan dia, dan tiyang seorang gerilya.

NGURAH
Lalu?

MEREKA SALING BERPANDANG-PANDANGAN. WAYAN MENGAMBIL BEDIL ITU DARI TANGAN NGURAH DAN NGURAH SEPERTI TAK BERTENAGA MEMBERIKAN BEDIL ITU

WAYAN (Pelan)
Aku telah sengaja melupakannya. Belanda itu memungutnya, tetapi tak tahu siapa yang
menembaknya.

(Membelai bedil)

Tiyanglah yang menembaknya.

NGURAH
Bape?

GUSTI BIANG
Tidak! Tidak! Tidak!

BERDIRI HENDAK MELEMPAR DENGAN TONGKAT. WAYAN SEGERA MERAMPAS DAN MENDUDUKKANNYA KEMBALI. SEMENTARA NGURAH HANYA TERCENGANG

WAYAN
Diam! Diam! Sudah waktunya menerangkan semua ini sekarang. Dia sudah cukup tua untuk tahu.

(Kepada Ngurah)

Ngurah, Ngurah mungkin mengira ayah Ngurah yang sejati, sebab dia suami sah ibu Ngurah. Tapi dia bukanlah seorang pejuang. Dia seorang penjilat, musuh gerilya. Dia bukan lelaki jantan, dia seorang wandu. Dia memiliki lima belas orang istri, tapi itu hanya untuk menutupi kewanduannya. Kalau dia harus melakukan tugas sebagai seorang suami, tiyanglah yang sebagian besar melakukannya. Tapi semua itu menjadi rahasia ... sampai ... Kau lahir, Ngurah, dan menganggap dia sebagai ayahmu yang sebenarnya. Coba tanyakan kepada ibu Ngurah, siapa sebenarnya ayah Ngurah yang sejati.

NGURAH TAK PERCAYA DAN MENGHAMPIRI IBUNYA YANG MULAI MENANGIS

WAYAN
Dia pura-pura saja tidak tahu siapa laki-laki yang selalu tidur dengan dia. Sebab sesungguhnya kami saling mencintai sejak kecil, sampai tua bangka ini. Hanya kesombongannya terhadap martabat kebangsawanannya menyebabkan dia menolakku,
lalu dia kawin dengan bangsawan, penghianat itu, semata-mata hanya soal kasta. Meninggalkan tiyang yang tetap mengharapkannya. Tiyang bisa ditinggalkannya, sedangkan cinta itu semakin mendalam.

NGURAH (Berdiri dan bertanya dengan tolol)
Betulkah itu?

WAYAN
Tanyakan sendiri kepada dia.

NGURAH
Betulkah semua itu Ibu?

GUSTI BIANG TERUS MENANGIS SEMENTARA NGURAH TERUS BERTANYA SAMBIL BERTERIAK

WAYAN
Tiyang menghamba di sini karena cinta tiyang kepadanya. Seperti cinta Ngurah kepada Nyoman. Tiyang tidak pernah kawin seumur hidup dan orang-orang selalu menganggap tiyang gila, pikun, tuli, hidup. Cuma tiyang sendiri yang tahu, semua itu tiyang lakukan dengan sengaja untuk melupakan kesedihan, kehilangan masa muda yang tak bisa dibeli lagi.

(Memandang Ngurah dengan lembut. Tapi tiba-tiba ia teringat sesuatu dan kemudian
berkata)

Tidak. Ngurah tidak boleh kehilangan masa muda seperti bape hanya karena perbedaan
kasta. Kejarlah perempuan itu, jangan-jangan dia mendapatkan halangan di jalan. Dia pasti tidak akan berani pulang malam-malam begini. Mungkin dia bermalam di dauh pala di rumah temannya. Bape akan mengurus ibumu. Pergilah cepat, kejar dia sebelum terlambat.

KEDUA LAKI-LAKI ITU SALING MEMANDANG, GUSTI BIANG TERPAKU DAN MERASA MALU SEKALI. WAYAN KASIHAN DAN MENDEKATI GUSTI BIANG. BEBERAPA SAAT KEMUDIAN WAYAN MEMANDANG NGURAH LAGI

WAYAN
Ngurah, sudah tahu semuanya. Ngurah sudah pantas mendengar itu. Tapi Jangan terlalu memikirkannya. Lupakan saja itu semua. Itu memang sudah terjadi tetapi sekarang setelah Ngurah tahu, hati kami merasa lega. Sekarang lupakan semua itu. Lupakan, jangan bersakit-sakit memikirkannya.

NGURAH MEMALINGKAN MUKA KETIKA WAYAN MENATAPNYA

WAYAN
Semua itu bohong, Titiyang bukan ayah Ngurah. Tiyang adalah Wayan yang pikun dan akan segera mati, dan beliau itu (Menunjuk potret) bukan penghianat. Dia seorang pahlawan dan pantas Ngurah sebut ayah. Ya ... banyak terdapat keburukan di atas dunia ini. Tapi tidak semua keburukan yang kita ketahui itu perlu diketahui orang lain, kalau bisa membuat keadaan lebih buruk lagi. Pergilah Tu Ngurah dan tiyang yang akan meladeni Gusti Biang.

TANPA MENOLEH NGURAH MENINGGALKAN TEMPAT

Adegan III

GUSTI BIANG
sudah berhenti menangis, Ia malu menatap Wayan, tapi laki-laki itu mendekatinya.

WAYAN
Bagaimana Gusti Biang?

GUSTI BIANG (Kemalu-maluan)
Kenapa kau ceritakan semua itu padanya.

WAYAN
Waktu telah tiba, dia sudah cukup dewasa untuk mengetahuinya.

GUSTI BIANG
Kau menyebabkan aku sangat malu.

(Gusti Biang Tertunduk Dan Wayan Menghapus Air Matanya)

Wayan Kenapa Ngurah dicegah kawin? Kita sudah cukup menderita karena perbedaan kasta ini. Sekarang sudah waktunya pemuda-pemuda bertindak. Dunia sekarang sudah berubah. Orang harus menghargai satu sama lain tanpa membeda-bedakan lagi, bagaimana Gusti Biang?

GUSTI BIANG (Sambil menghapus air matanya)
Aku tidak akan mencegahnya lagi. Kita akan mengawinkannya,

(Dengan manja)

Tapi jangan ceritakan lagi tentang yang dulu-dulu. Aku sangat malu.

WAYAN (Tersenyum)
Kalau begitu Wayan tidak jadi pergi. Wayan akan menjagamu Sagung Mirah, sampai kita
berdua sama-sama mati dan di atas kuburan kita, anak-anak itu berumah tangga dengan baik. Sagung Mirah ..

GUSTI BIANG
Apa Wayan?

WAYAN
Kau tetap cantik seperti Dewi Sri ...

GUSTI BIANG
Huuuuuuuuuussssssss!

WAYAN TERTAWA LALU BERJALAN KE GUDANG. GUSTI BIANG MENGANGKAT LAMPU TEPLOK UNTUK WAYAN.

TAMAT


Tidak ada komentar:

Posting Komentar